Friday, June 18, 2021

Roh Kudus : Suatu perbandingan dari tiga agama (3)


JIBRIL DALAM PANDANGAN ISLAM, YAHUDI DAN KRISTIAN


Jibril dalam pandangan Islam, Yahudi dan Kristian 

Dalam artikel Roh Kudus : Suatu perbandingan dari tiga agama (2) saya telah pun menjelaskan takrif 'Ruh' dan 'Ruhul Qudus' dalam Islam. Maka kita dapati, perkataan 'ruh' juga terkadang dipakai untuk merujuk kepada Jibril alaihis salam. Manakala 'Roh Kudus' memang secara khusus merujuk kepada malaikat Jibril a.s, menurut pendapat yang terkuat dari para ulama'.

Sebaliknya pula, dalam dapatan penulis sepanjang kajian tentang tajuk ini dibuat, malaikat jibril tidak dikaitkan lansung dengan istilah 'Roh' atau 'Roh Kudus' dalam pemahaman Yahudi dan Kristian. Sebaliknya, mereka menggunakan istilah Gabriel untuk merujuk kepada entiti malaikat Jibril alaihis salam. 


Gabriel dalam pandangan Yahudi 

Bagi penganut Yahudi, Malaikat Jibril adalah antara empat malaikat yang disebut dalam doa rutin ketika hendak tidur (shema prayer) yang masyhur. Keempat malaikat tersebut, Michael, Gabriel, Uriel, dan Raphael, sering disebut bersama. Dalam keempat-empat malaikat tersebut, Malaikat Jibril a.s paling sering muncul dalam teks Yahudi. Dia adalah salah satu dari (sekurang-kurangnya) tujuh malaikat, atau malaikat tumpuan, yang terkenal dalam liturgi dan tafsir alkitabiah sebagai yang paling tinggi atau paling kuat dari pasukan malaikat. (1)

Jibril adalah salah satu dari empat malaikat yang berdiri di empat sisi takhta Tuhan dan berfungsi sebagai malaikat pelindung dari empat bahagian dunia.(2)

Penyebutan pertama Gabriel di Tanakh terdapat dalam Kitab Daniel. Selepas Nabi Daniel mengalami proses nubuat, dia tidak dapat memahaminya sehinggalah Jibril datang dan menafsirkan nubuat itu kepadanya. 

Michael dan Gabriel sering bekerjasama. Namun dalam pada itu Michael, sebagai penjaga malaikat Israel dan imam besar surga, lebih banyak tugasan di syurga, sementara Jibril adalah utusan Tuhan, yang melaksanakan kehendak Tuhan di bumi. 

Sebahagian besar rujukan dalam kesusasteraan tradisional, termasuk liturgi Talmud dan rutin Shema ketika tidur, menggambarkan Jibril sebagai kekuatan Tuhan yang diutuskan. Sebenarnya, nama Ibrani Gavriel, atau Gavar El, diterjemahkan menjadi "keperkasaan Tuhan" atau "kekuatan Tuhan." Kadang-kadang ia dilambangkan oleh unsur api (Talmud Yoma 21b) dan pada waktu yang lain, air (Targ. Ayub 25: 2). Walau apa pun, dia selalu dikenali sebagai 'kekuatan mutlak' atau malaikat terkuat.

Bagi agama Yahudi, penyembahan kepada malaikat adalah terlarang, walaupun ia melalui perubahan pandangan pada abad pertengahan. Dalam Berakhot (upacara sembahyang Yahudi) disebutkan "Jangan berdoa kepada Michael dan juga Gabriel, tetapi kepada-Ku, dan aku akan segera menjawab" (Yer. Ber. 13a). 


Gabriel dalam pandangan Kristian 

Gabriel dalam pandangan Kristian tidaklah begitu jauh berbeza sepertimana dalam pandangan Yahudi. Dalam laman Sarapan Pagi.org dinyatakan, 

Gabriel (Ibrani: גַּבְרִיאֵל - GAVRI'EL, artinya: kekuatan Allah; utusan Allah; berasal dari kata: גֶּבֶר - GEVER, artinya: laki-laki, gentleman, orang, perkasa dan kata אֵל - 'EL, Allah; Yunani: Γαβριήλ - Gabriel). Salah satu dari dua malaikat yg namanya demikian dalam Alkitab; yg lainnya adalah Mikhael, penghulu malaikat (Yudas 9). Dalam Daniel 8:16, Gabriel diutus untuk mengartikan kepada Daniel penglihatan tentang domba jantan dan kambing jantan. Kemudian ia diutus lagi untuk bernubuat tentang 70 minggu (Daniel 9:21 dst). Ada yg mengatakan bahwa malaikat dalam Daniel 10:5 dab adalah Gabriel.

Buku-buku di luar Alkitab, antara lain sastra Yahudi zaman antar perjanjian, menyebut Gabriel sebagai salah satu tokoh malaikat. Gabriel disebut 'malaikat hadir', yg berdiri di depan takhta Allah memuji-muji Dia dan memikirkan manusia (Tobit 12:15; Yud 2:2; Imamat 3:5,7; bnd Lukas 1:19; Wahyu 8:2).

Kitab-kitab lainnya di luar Alkitab menyebut Gabriel salah satu dari 7 tokoh malaikat sekawan seperti Mikhael, Sariel (atau Uriel) dan Rafael (1 Enokh 9:1; 1QM 9:15 dst; bnd 1 Henokh 40:6; 54:6, Sib. Or. 2:215 -- menyebut beberapa naskah saja, Numbers Rabbah 2:10), atau salah satu dari 7 sekawan seperti Uriel, Rafael, Raguel, Mikhael, Sariel (atau Saraqael) dan Remiel (1 Enokh 20). Kawasan tanggung jawabnya yg khusus adalah Firdaus (1 Enokh 20:7). Ia membinasakan raksasa-raksasa yg hidup sebelum air bah (1 Enokh 10:9). Dengan tokoh malaikat lainnya ia akan memimpin pasukan malaikat pada Hari Kiamat (1 Enokh 90:21 dst; bnd 54:6; Sib. Or. 2:214-219; 1 Tesalonika 4:16; Wahyu 8:2). Targum dan sastra para rabi sering mengartikan malaikat-malaikat yg tanpa nama dalam PL sebagai Gabriel atau Mikhael.

Berikut saya petik pula penjelasan tentang Gabriel dari laman Gotquestions.org, 

"Malaikat Gabriel adalah pembawa pesan yang dipercayai mengantar beberapa pesan penting dari Allah. Gabriel muncul kepada setidaknya tiga tokoh dalam Alkitab: pertama kepada nabi Daniel (Daniel 8:16); kemudian kepada imam Zakharia untuk bernubuat dan menyatakan kelahiran Yohanes Pembaptis (Lukas 1:19); dan akhirnya kepada perawan Maria untuk memberitahunya bahwa ia akan mengandung seorang putra (Luka 1:26-38). Arti dari nama Gabril adalah "Allah itu hebat," dan, sebagai malaikat pemberita, ialah yang mengungkapkan bahwa Juruselamat harus dipanggil "Yesus" (Lukas 1:31).

Pertama kali kita mendengar tentang Gabriel, ia menyatakan diri kepada Daniel setelah nabi tersebut mendapatkan suatu penglihatan. Peran Gabriel adalah menjelaskan arti penglihatan tersebut kepada Daniel (Daniel 8:16). Penampilan Gabriel seperti manusia (Daniel 8:15, 9:27). Ketika Gabriel mengunjungi Daniel untuk kedua kalinya, ia datang "terbanglah dengan cepat ke arahku Gabriel, dia yang telah kulihat dalam penglihatan yang dahulu itu pada waktu persembahan korban petang hari" (Daniel 9:21). Istilah "terbang"-nya Gabriel mungkin menyiratkan adanya sayap, tetapi secara harafiah tidak disebutkan. Adapula dituliskan bahwa penampilan Gabriel menakutkan, sebagaimana Daniel jatuh tertelungkup di hadapannya (Daniel 8:17) dan sakit berhari-hari setelah pengalamannya dengan malaikat dan penglihatan tersebut (Daniel 8:27).


Beberapa isu terkait istilah Roh Kudus dalam Perjanjian Lama

Meskipun istilah Roh Kudus tidak dikenali sebagai malaikat Jibril/Gabriel dalam pandangan Yahudi dan Kristian, namun ada beberapa isu terkait istilah tersebut dalam Perjanjian Lama. Berikut saya petik perenggan dari artikel 'Konsep Roh Suci menurut Islam dan Kristian'(5), 

Walau bagaimanapun, terdapat beberapa isu berkenaan Holy Spirit dalam agama Kristian yang boleh dikaitkan dengan konsep Rūh al-Qudus dalam Islam. Dalam beberapa kenyataan Bible, Holy Spirit dikaitkan pula dengan malaikat (angel). Hal ini sedikit sebanyak menyumbang kepada kekeliruan dalam konteks perbandingan Islam-Kristian. Bible merekodkan:

“In all their affliction He was afflicted, and the Angel of His Presence saved them; In His love and in His pity He redeemed them; and He bore them and carried them all the days of old.”(Isaiah 63:9)

Perkataan 'angel of His Presence' di sini bermaksud 'angel' yang paling tinggi, yang paling hebat, yang paling dekat dengan Tuhan. Dalam Kristian ianya membawa maksud sama ada Gabriel atau Micheal. Walau bagaimanapun angel of His Presence ini diterjemahkan pula kepada Holy Spirit kerana ayat ini sebenarnya menceritakan berkenaan Holy Spirit. Maka hal ini akan memberi pemahaman bahawa Holy Spirit ialah termasuk dalam kategori angel sedangkan Holy Spirit (pada pemahaman mereka - penulis) bukanlah dari entiti angel sepertimana yang telah dinyatakan.

Saya juga menyemak ayat tersebut dalam Sabdaweb Alkitab, ternyata hanya versi DRFT_SB yang menerjemahkan ayat tersebut dengan malaikat. Ayat tersebt berbunyi: 

DRFT_SB : "Maka dalam segala kesesakkannya itu iapun telah sesak dan malaikat dari pada hadirat-Nya telah menyelamatkan dia maka oleh kasih-Nya dan sayang-Nya juga ditebus-Nya akan dia serta didudukkan-Nya dan dipangku-Nya segala zaman dahulu." (Yesaya 63:9)

Namun dalam versi Terjemahan Baru (TB), Alkitab Kabar Baik (BIS) dan lain-lain, perkataan 'malaikat' telah diterjemah menjadi 'Ia', yang merujuk kepada Tuhan (mungkin Roh Kudus menurut pemahaman mereka). Contohnya dalam TB dan BIS disebutkan, 

TB : "dalam segala kesesakan mereka. Bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka; Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya. Ia mengangkat dan menggendong mereka selama zaman dahulu kala." (Yesaya 63:9)

BIS : "Ia sendiri ditimpa kesusahan mereka. TUHAN tidak mengirim utusan atau duta; Ia sendirilah yang membebaskan mereka karena kasih dan belaskasihan-Nya. Ia selalu memelihara mereka sejak dahulu kala." (Yesaya 63:9)

Apa yang menarik ialah, dalam artikel 'Konsep Roh Suci menurut Islam dan Kristian', turut disentuh ialah kewujudan golongan Kristian yang menolak ketuhanan Roh Kudus. Artikel itu menjelaskan, 

"Dalam sejarah perkembangan ajaran Kristian, ada kelompok yang menolak ketuhanan Holy Spirit dan menganggap ianya adalah malaikat yang tertinggi antaranya kumpulan yang digelar sebagai ‘Tropici’. Menurut mereka, Holy Spirit adalah makhluk yang diciptakan daripada tiada menjadi ada (creature brought into existence out of nothingness) dan ianya adalah malaikat yang paling tinggi. Walau bagaimanapun, pandangan kelompok Tropici ini ditentang oleh Athanasius yang menganggap pemahaman mereka terhadap teks Bible sebagai menyimpang. Malahan mereka dianggap sebagai kufur (heretic) dan tidak diiktiraf oleh majoriti penganut Kristian. Athanasius menegaskan dengan menolak ketuhanan holy spirit, ianya bererti menolak ketuhanan Tuhan Bapa itu sendiri."

Demikian sedikit sebanyak coretan penulis berkenaan Malaikat Jibril dalam pembentangan kali ini. Semoga bermanfaat.



1) Gabriel - A protector, avenger, and warrior angel of God's will. - My Jewish Learning.com

2) GABRIEL ( Γαβριήλ, "man of God") - Jewish Encyclopedia.com

3) Apa kata Alkitab mengenai malaikat Gabriel? - Gotquestions.org

4) GABRIEL - Sarapan Pagi.org

5) KONSEP ROH SUCI MENURUT ISLAM DAN KRISTIAN - Adam Badhrulhisham & Khadijah Mohd Khambali@Hambali, University College of Islam Melaka. 78200. Melaka. Malaysia. Department of `Aqidah & Islamic Thought. Academy of Islamic Studies. University of Malaya. 

Saturday, June 12, 2021

Roh Kudus : Suatu perbandingan dari tiga agama (2)


MENEROKA MAKSUD RUH DALAM AL-QURAN


Meneroka maksud Ruh dalam Alquran

Perlu diketahui bahawa didalam Alquran, terdapat dua istilah yang hampir sama iaitu Ruh dan Ruhul Quds. Dalam pembentangan 'Konsep Roh Suci Menurut Islam Dan Kristian' (1), mereka mengemukakan definisi Ruh sebagai :

i. Definisi Rūḥ

Menurut Ibn Fāris, kalimah rūh berasal daripada al-rīh (الريح (yang merujuk kepada angin. Menurut beliau, huruf yā (ي (ditukarkan daripada waw (و (untuk disesuaikan dengan huruf rā (ر (yang berbaris bawah. Beliau juga menyatakan kalimah rūh merujuk kepada nafas manusia. 

Ibn Manẓūr menyetujui pandangan ini dengan berpendapat (روح ,(jama’nya (أرواح (berasal daripada kalimah (الريح (yang bermaksud angin, dan apabila digandingkan dengan manusia ianya bermaksud nafas. Ianya sebagai nafas yang dihirup oleh manusia yang mengalir dalam jasad manusia sehingga membuatkannya hidup. Al-Rāghib al-Asfahānī pula menyatakan rūh ialah salah satu nama bagi nafas seperti mana nama-nama yang diberikan kepada objek objek yang berbeza dalam kelompok yang sama.


Hasil penelitian penulis, ada beberapa ayat didalam Alquran yang menggunakan perkataan Ruh namun dengan maksud yang pelbagai dan berbeza. Disini penulis bawakan beberapa ayat yang menggunakan perkataan Ruh berserta beberapa terjemahan yang sahih. 

Ruh dalam erti kata cahaya, iman dan pertolongan kepada orang beriman

Umpamanya, dalam Surah Al-Mujadilah ayat 22, disebutkan : 

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Referensi: https://tafsirweb.com/37290-quran-surat-al-mujadilah.html

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (Al-Mujadilah 58:22)

Menurut Tafsir Al-Muyassar, Kementerian Agama Saudi Arabia, maksud 'Ruh' dalam ayat tersebut dinyatakan sebagai : 

"Allah menguatkan mereka dengan bukti nyata dan cahaya dari-Nya,"

Dalam Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram), 'Ruh' adalah pertolongan Allah untuk orang-orang beriman. 

"Orang-orang beriman yang memiliki derajat yang tinggi itu telah Allah tetapkan hati mereka untuk keimanan dan Allah beri pertolongan dalam menghadapi musuh-musuh mereka di dunia"

Dalam Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakulti al-Qur'an Universiti Islam Madinah, dijelaskan hubungkait istilah 'Ruh' dengan pertolongan Allah,

وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ ۖ"( dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya) Yakni menguatkan mereka dengan memberi pertolongan dalam melawan musuh mereka di dunia. Allah menyebutkan pertolongan dari-Nya dengan istilah ‘ruh’ karena dengan pertolongan itu urusan mereka dapat berlanjut."

Ini pula penjelasan dari Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H,

"Orang-orang yang seperti ini telah Allah tanamkan keimanan dalam hati mereka sehingga syubhat dan keraguan tidak akan berpengaruh lagi terhadapnya. Merekalah orang-orang yang telah dikuatkan Allah dengan ruh dari-Nya, iaitu dengan wahyu dan pertolongan-Nya serta bantuan ilahi serta ihran rabbani seperti kemauan batin, kebersihan hati, kemenangan terhadap musuh dan lain-lain."

Dalam Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I dijelaskan bentuk pertolongan tersebut, 

"mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari dia berupa kemauan dan kekuatan batin, kebersihan hati, kemenangan terhadap musuh dan lain-lain."


Ruh dengan makna ruh yang ditiupkan kepada Nabi Adam a.s.

فَإِذَا سَوَّيْتُهُۥ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِى فَقَعُوا۟ لَهُۥ سَٰجِدِينَ

Referensi: https://tafsirweb.com/4179-quran-surat-al-hijr-ayat-29.html

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.(Al-Hijr 15:29)

Dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universiti Islam Madinah, dijelaskan keadaan semasa penciptaan Nabi Adam a.s dalam ayat berkenaan,

"Maka apabila Aku telah menyempurnakan penciptaannya, dan telah meniupkan ruh ciptaan-Ku kedalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Ruh adalah ruhani yang menakjubkan ciptaan Allah. Sebagai pemuliaan kepada Adam."

Hal yang sama dikatakan dalam Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah,

”dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”

Dalam Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram), dijelaskan perkataan Imam Al-Qurtubi,

وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِى "(dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku) Imam al-Qurthubi berkata: ruh adalah jasad halus yang dijadikan Allah untuk menciptakan kehidupan pada badan. Allah menisbatkan ruh kepada diri-Nya sebagai nisbat makhluk kepada Penciptanya, karena ruh adalah makhluk menakjubkan diantara makhluk-makhluk-Nya."

Menurut Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi, dijelaskan juga penisbahan perkataan 'Ruh' dengan Allah taa'la, 

"Diidhafatkan atau dihubungkan kata roh dengan Allah Ta’ala adalah untuk menunjukkan kemuliaan Adam, sebagaimana kata “baitullah” (rumah Allah), dsb."


Ruh dengan makna ruh yang ditiupkan kepada Maryam 

وَٱلَّتِىٓ أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهَا مِن رُّوحِنَا وَجَعَلْنَٰهَا وَٱبْنَهَآ ءَايَةً لِّلْعَٰلَمِينَ

Referensi: https://tafsirweb.com/37141-quran-surat-al-anbiya.html

Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam. (Al-Anbiya 21:91)

Dalam Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia, dijelaskan bahawa Jibril a.s meniupkan 'Ruh' kepada Maryam a.s,

"Dan ingatlah -wahai Rasul- tentang kisah Maryam -'alaihassalām- yang menjaga kehormatan dirinya dari perbuatan zina, lalu Allah mengutus padanya Jibril -'alaihissalām-. Lalu Jibril meniupkan ruh ke dalam tubuhnya hingga iapun mengandung Isa -'alaihissalām-."

Hal yang sama dikatakan dalam Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakulti al-Qur'an Universiti Islam Madinah

فَنَفَخْنَا فِيهَا مِن رُّوحِنَا "(lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami) Yakni ruh nabi Isa."

Dalam Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I, dinukil peristiwa yang sama,

"Dan ingatlah kisah maryam, seorang perempuan salehah, yang memelihara kehormatannya dari berbuat zina, bahkan dari sentuhan laki-laki. Lalu kami tiupkan roh dari kami ke dalam rahim-Nya sehingga ia hamil; dan kami jadikan dia dan anaknya sejak lahir sebagai tanda kebesaran Allah bagi seluruh alam, karena anak itu lahir tanpa ayah, bisa berbicara sejak bayi dan menyatakan dirinya hamba Allah, serta menjadi nabi dan rasul Allah."


Ruh dengan erti kata Rahmat Allah 

يَٰبَنِىَّ ٱذْهَبُوا۟ فَتَحَسَّسُوا۟ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوا۟ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْكَٰفِرُونَ

Referensi: https://tafsirweb.com/37118-quran-surat-yusuf.html

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.(Yusuf 12:87)

Menurut Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia, Perkataan 'Ruh' diungkapkan sebagai pertolongan Allah. 

Sang ayah berkata kepada mereka, "Wahai anak-anakku! Pergilah kalian untuk mencari khabar tentang Yusuf dan saudaranya. Dan jangan pernah merasa putus asa terhadap pertolongan serta jalan keluar dari Allah kepada hamba. Orang yang merasa putus asa terhadap pertolongan Allah hanyalah orang-orang kafir, karena mereka tidak mengetahui besarnya kekuasaan Allah dan rahasia anugerah-Nya kepada hamba-hamba-Nya."

Dalam Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram), 'Ruh' diertikan sebagai rahmat Allah.

Kemudian Ya’qub berkata kepada mereka dengan penuh keyakinan kepada rahmat Allah: “Wahai anak-anakku, pergilah ke negeri Mesir untuk mencari kabar tentang Yusuf dan dua saudaranya, dan janganlah kalian berputas asa dari rahmat Allah yang luas, karena tidak ada yang berputus asa dari rahmat-Nya melainkan orang yang mendustakan Allah.”

Hal yang sama dinyatakan dalam Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakulti syari'ah Universiti Qashim - Saudi Arabia.

Ya’kub melanjutkan ucapannya: “Wahai anak-anakku, pergilah kalian ke Mesir. Carilah kabar tentang Yusuf dan saudaranya. Janganlah kalian menyerah dengan rahmat Allah dengan terus berkabung dalam kesedihan dan kegelisahan kita. Sesungguhnya tidak ada yang menyerah dengan rahmat Allah kecuali orang yang menolak anugerah, kuasa dan kelembutan Allah” Ar-Rauhu adalah setiap sesuatu yang mengguncang manusia dan sesuatu yang bisa dinikmati olehnya.

Dalam Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakulti al-Qur'an Universiti Islam Madinah, 'Ruh' diertikan sebagai jalan keluar, atau firasat tentang keberadaan seseorang. 

وَلَا تَا۟يْـَٔسُوا۟ مِن رَّوْحِ اللهِ ۖ( dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah) Yakni janganlah kalian berputus asa dari jalan keluar dan bantuan yang akan diberikan Allah. Makna dari (الروح) yakni segala yang dirasakan dan diyakini seseorang tentang keberadaan dan kedatangannya.


Ruh dengan maksud wahyu 

يُنَزِّلُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةَ بِٱلرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِۦ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦٓ أَنْ أَنذِرُوٓا۟ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱتَّقُونِ

Referensi: https://tafsirweb.com/37129-quran-surat-an-nahl.html

Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: “Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku”. (An-Nahl 16:02)

Dalam Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakulti al-Qur'an Universiti Islam Madinah, dijelaskan bahawa,

 يُنَزِّلُ الْمَلٰٓئِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِۦ (Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya) Yakni Allah menyampaikan wahyu-Nya kepada para Nabi dengan perantara para malaikat, para malaikat membawa wahyu itu kepada orang yang diistimewakan dengan kenabian tersebut.

Dalam Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H, dijelaskan maksud penamaan 'Ruh' dengan wahyu. 

Makna kata: (يُنَزِّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ بِٱلرُّوحِ) yunazzilul malaaikata birruuh : “Dia menurunkan malaikat dengan ar-ruh” yaitu wahyu, dengannya hidup seluruh jiwa, adapun Ar-Ruh dari kalangan malaikat adalah Jibril.

Pelajaran dari ayat: • Penamaan wahyu dengan ruh, karena ia menghidupkan hati, sebagaimana jasad hidup dengan ruh.

Dalam Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi, hal yang sama dinyatakan,

Wahyu disebut ruh, karena dengannya jiwa manusia hidup.


Ruh dengan maksud Malaikat Jibril

يَوْمَ يَقُومُ ٱلرُّوحُ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ صَفًّا ۖ لَّا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحْمَٰنُ وَقَالَ صَوَابًا

Referensi: https://tafsirweb.com/11928-quran-surat-an-naba-ayat-38.html

Dalam Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia, 'Ruh' diterjemahkan sebagai Malaikat Jibril a.s.

"Pada suatu Hari ketika Jibril dan para Malaikat berdiri berbaris, tidak ada di antara mereka yang berbicara tentang syafaat untuk seseorang kecuali bagi yang telah diizinkan oleh Allah untuk memberi syafaat, dan dia berkata lurus seperti kata tauhid."

Pada Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram), dinyatakan perkara yang sama.

"Pada hari kiamat, malaikat Jibril dan malaikat lainnya berdiri membentuk barisan; mereka tidak berbicara dan tidak memberi syafaat kecuali bagi orang yang telah mendapat izin dari Allah untuk memperoleh syafaat dan mengatakan perkataan yang benar; dan perkataan yang paling benar adalah kalimat ‘Laailaaha illaa Allah’."

Namun dalam Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakulti al-Qur'an Universiti Islam Madinah, dinukilkan juga pendapat lain yang mengatakan bahawa 'Ruh' bukanlah Jibril a.s.

 يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلٰٓئِكَةُ صَفًّا ۖ (Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf) Yakni berbaris-baris. Makna (الروح) disini adalah salah seorang malaikat, terdapat pendapat mengatakan bahwa itu adalah Jibril. Namun menurut pendapat lain ia adalah salah satu tentara Allah yang bukan dari golongan malaikat.

Namun Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H merajihkan pendapat yang mengatakan bahawa ia adalah Jibril a.s.

( يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ ) , "Kata ُالرُوْح dalam ayat ini oleh para ulama dalam pendapat yang paling kuat dan paling mendekati, bahwa yang dimaksud adalah malaikat jibril, yang di ayat lain dikatakan ( نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ ) yakni wahyu Allah yang dibawah oleh Jibril, malaikat yang paling agung. Dalam ayat ini penyebutan kata الروح yang dinisbatkan kepada jibril sebelum para malaikat lainnya adalah pengkhususan untuknya, dan para malaikat pun juga menghadap Allah dengan bershaf-shaf."


Roh Kudus dalam istilah Al-Quran

Saya tertarik dengan apa yang disampaikan dalam artikel 'Konsep Roh Suci Menurut Islam Dan Kristian'. Setelah membentangkan beberapa maksud perkataan Ruh dalam Al-Quran, beliau membawakan pandangan Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir Al-Kabir berkenaaan beberapa pendapat ulama' tentang Ruh-Al-Qudus dalam Al-Quran. Setelah membawakan keempat pandangan yang ada, beliau menyatakan kebanyakan ulama' mentarjihkan bahawa Ruh-Al Qudus lebih tepat diertikan sebagai Malaikat Jibril. Berikut saya petik dari pembentangan tersebut. 

Walau bagaimanapun kebanyakan ulama mentarjihkan pendapat yang pertama termasuk al-Rāzī. Ini adalah berpandukan beberapa sebab: Pertama, berdasarkan kesesuaian konteks ayat. Dalam ayat tersebut, disebutkan Rūh al-Qudus sebagai yang ‘meneguhkan kebenarannya’  dan ianya difahami sebagai satu bentuk bantuan dan pertolongan yang sudah pastinya lebih sesuai dengan pemaknaannya sebagai Jibril AS. Kedua, hakikat kejadian Jibril AS yang diciptakan daripada cahaya yang bersifat rohani. Oleh itu penggunaan kalimah rūh lebih tepat merujuk kepadanya berbanding manusia mahu pun Injil yang merupakan sesuatu yang bersifat fizikal. Perkara ini diperkuatkan lagi dengan penggunaan Rūh al-Qudus dalam ayat di dalam surah al-Nahl:

Maksudnya: “Katakanlah (wahai Muhammad): al-Qur’an itu diturunkan oleh Ruh al-Quds (Jibril) dari Tuhanmu dengan cara yang sungguh layak dan berhikmah, untuk meneguhkan iman orang-orang yang beriman, dan untuk menjadi hidayah petunjuk serta berita yang mengembirakan bagi orang-orang Islam.” Al-Nahl (16): 102

Ketiga, dalam beberapa ayat lain, penggunaan kalimah rūh merujuk kepada Jibril (surah al-Shu`ara’ dan surah Maryam). Persandaran kalimah al-quds (suci) dalam ayat pula adalah kerana hakikat Jibril yang sentiasa suci daripada dosa. Penggunaan kalimah rūh (nafas yang menghidupkan) juga bertepatan dengan hakikat tugas Jibril kerana Jibril diamanahkan untuk membawa wahyu yang menghidupkan hati manusia yang mati. Oleh itu Rūh alQudus dalam al-Qur’an dilihat lebih tepat sebagai merujuk kepada malaikat Jibril.


Roh Kudus : Suatu perbandingan dengan kefahaman Kristian dan Yahudi

Dalam Islam, Rūh al-Qudus atau Holy Spirit membawa pengertian yang sama dari sudut bahasa iaitu roh suci. Meskipun menggunakan istilah yang hampir sama, namun Islam tidak mempunyai pengertian seperti mana kepercayaan Yahudi mahupun Kristian. 

Dalam pembentangan  'Konsep Roh Suci Menurut Islam Dan Kristian', Ruhul Qudus dijelaskan sebagai berikut. 

Rūh al-Qudus menurut Islam merujuk kepada Jibril iaitu salah satu malaikat yang diciptakan. Malaikat adalah makhluk ciptaan Allah SWT daripada cahaya yang berjisim halus, tinggal di langit dan boleh menyerupai pelbagai bentuk. Sebagai makhluk Allah, semestinya ia mempunyai kewajipan dan tertakluk kepada perintah Allah SWT.

Jibril dianggap sebagai makhluk istimewa yang menduduki darjat yang sangat mulia di sisi Allah SWT. Jibril merupakan salah satu daripada Ruasā’ al-Malāikah (ketua malaikat) yang empat. Mereka juga digelar sebagai al-`Uzamā’ al-Arba‘ah (empat malaikat yang agung). Mereka ialah Jibril, Mikail, Israfil dan malaikat maut. Dalam sebuah hadis ada disebutkan bahawa Rasulullah SAW bersabda, “Makhluk yang paling akrab dengan Allah SWT ialah Jibril, Mikail dan Israfil.” Dalam riwayat lain apabila ditanyakan kepada Jibril siapakah makhluk yang paling hampir di sisi Allah SWT Jibril menjawab “Makhluk yang paling hampir ialah Jibril, Mikail, Israfil dan malaikat maut.”

Jibril mempunyai sifat-sifat keagungan seperti mempunyai kekuatan yang luarbiasa, rupa paras yang agung, ditaati di kalangan para penghuni langit dan bersifat amanah. Tugas utama Jibril adalah untuk menyampaikan wahyu daripada Allah kepada para rasul,  di samping memimpin para malaikat dalam Perang Badar, menurunkan azab kepada pengingkar arahan Tuhan, berurusan dengan doa dan permintaan manusia dan lainlain. Meskipun disifatkan dengan pelbagai sifat keagungan, Islam menganggap Jibril termasuk dalam hamba Allah yang mempunyai kewajipan dan tanggungjawab terhadapNya. Ia sama sekali tidak mencapai darjat ketuhanan bahkan ia adalah makhluk yang sentiasa taat beribadah kepada Allah SWT dan akan dimatikan apabila sampai masanya kelak.

Dengan huraian diatas, kita jelas bahawasanya Ruhul Qudus dalam pandangan Islam adalah suatu personafikasi / peribadi yang mempunyai fikiran, kehendak dan emosi tersendiri. Jibril a.s bukanlah suatu bentuk 'kuasa' atau 'tenaga' semata-mata. Namun, kita maklum bahawasanya segala atribut yang ada pada malaikat Jibril a.s adalah tetap termasuk dalam kategori makhluk. Jibril a.s tidak mempunyai apa-apa sifat ilahi. 



1) KONSEP ROH SUCI MENURUT ISLAM DAN KRISTIAN - Adam Badhrulhisham & Khadijah Mohd Khambali@Hambali, University College of Islam Melaka. 78200. Melaka.
Malaysia. Department of `Aqidah & Islamic Thought. Academy of
Islamic Studies. University of Malaya. 

Wednesday, June 9, 2021

Roh Kudus : Suatu perbandingan dari tiga agama (1)



ROH KUDUS : SUATU PERBANDINGAN ANTARA TIGA AGAMA


Dalam ajaran Kristian, Roh Kudus dikenali sebagai peribadi ketiga dalam kepercayaan tritunggal. Ia mempunyai kedudukan yang sejajar dengan Tuhan Bapa dan Yesus. Maka, perbincangan tentang Roh Kudus juga merupakan subjek penting dalam kajian Kristologi kerana kedudukannya dalam doktrin tritunggal. 

Dalam perbincangan kali ini, saya akan menerangkan definisi Roh Kudus berdasarkan dari perspektif Yahudi, Kristian dan Islam. Perbincangan ini amat penting kerana ketiga-tiga agama menggunakan istilah yang hampir serupa. 


Apakah Roh Kudus itu? 

Roh Kudus mempunyai beberapa definisi bergantung kepada kepercayaan agama masing-masing. Dalam perspektif agama Yahudi, Roh Kudus dinyatakan sebagai: 

In Judaism, the Holy Spirit (Hebrew: רוח הקודש‎, ruach ha-kodesh) refers to the divine force, quality, and influence of God over the universe or over God's creatures, in given contexts. 

The term ruach haqodesh is found frequently in talmudic and midrashic literature. In some cases it signifies prophetic inspiration, while in others it is used as a hypostatization or a metonym for God. The rabbinical understanding of the Holy Spirit has a certain degree of personification, but it remains, "a quality belonging to God, one of his attributes" (1) (Wikipedia - Holy Spirit in Judaism). 

Dengan penjelasan ini kita dapat lihat bahawa Yahudi memahami Roh Kudus sebagai kekuatan Ilahi yang dapat memberi pengaruh terhadap alam semesta dan makhlukNya dalam konteks tertentu. 

Berikut pula saya petik pengertian Roh Kudus dalam laman Katolisitas.org (2).

Kata “Roh Kudus”, Holy Spirit, berasal dari bahasa Latin, spiritus, artinya nafas, yang berhubungan dengan kehidupan. Roh Kudus adalah Roh Allah yang memberikan kehidupan (lih. Rm 8:13) yang berasal dari Allah Bapa dan Putra. Roh Kudus adalah Pribadi ketiga dari Tritunggal Maha Kudus, yang hakikat-Nya sama dengan Allah Bapa dan Allah Putra.[Sinoda XI di Toledo 675: DS 527, dikutip dalam KGK 245.] Kesamaan hakikat antara Allah Bapa Putra dan Roh Kudus nampak pada perkataan Yesus kepada para murid-Nya tentang Baptisan, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus…” (Mat 28:19). 

Syahadat panjang Nicea-Konstantinopel menyatakan:

“Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan; Ia berasal dari Bapa dan Putra, yang serta Bapa dan Putra, disembah dan dimuliakan; Ia bersabda dengan perantaraan para nabi.”

Roh Kudus berasal dari Allah Bapa dan Putra, namun tidak berarti bahwa Roh Kudus baru ada kemudian setelah Bapa dan Putra. Roh Kudus telah ada sejak kekekalan, sebagaimana kehangatan terhadap api, yang ada dan berasal di saat yang sama. Sebab Allah Bapa dan Putra itu kekal, maka Roh Kudus itu pun kekal. Roh Kudus adalah kasih timbal balik antara Bapa dan Putra. Demikian sempurnanya kasih pemberian diri ini, sehingga bukan merupakan perasaan saja tetapi  adalah Pribadi Allah sendiri. Ia lah Roh Kudus.

Manakala dalam laman Gotquestions.org (3) dinyatakan, 

Terdapat banyak salah faham mengenai identiti Roh Kudus. Ada orang yang menganggap Roh Kudus sebagai kuasa mistik. Ada pula orang yang menganggap Roh Kudus sebagai kuasa Tuhan yang boleh diperolehi oleh orang yang percaya kepada Kristus. Apa yang dikatakan oleh Kitab Injil mengenai identiti Roh Kudus? Secara ringkas, Kitab Injil mengatakan bahawa Roh Kudus ialah Tuhan. Kitab Injil juga mengatakan bahawa Roh Kudus mempunyai Pendirian, suatu Kewujudan yang mempunyai fikiran, emosi dan niat.

Walaubagaimanapun sekte Jehovah Witness mempunyai pandangan yang berbeza tentang Roh Kudus. Meskipun mereka adalah aliran pecahan dari Kristian, namun mereka mempunyai pandangan yang sama dengan penganut Yahudi. Dalam laman Jw.org (4) dinyatakan, 

Roh kudus adalah kuasa Allah yang sedang bekerja, tenaga aktif-Nya. (Mikha 3:8; Lukas 1:35) Allah mengirimkan roh-Nya dengan cara menyalurkan tenaga-Nya ke mana saja untuk melaksanakan kehendak-Nya.​—Mazmur 104:30; 139:7.

Dalam Alkitab, kata ”roh” diterjemahkan dari kata Ibrani ruʹakh dan kata Yunani pneuʹma. Sering kali, kata-kata itu memaksudkan tenaga aktif Allah, atau roh kudus. (Kejadian 1:2) Tapi, Alkitab juga menggunakan kata-kata itu untuk memaksudkan:

Napas.​—Habakuk 2:​19; Penyingkapan (Wahyu) 13:15.

Angin.​—Kejadian 8:1; Yohanes 3:8.

Daya, atau penggerak, kehidupan dalam makhluk hidup.​—Ayub 34:14, 15.

Sikap atau sifat seseorang.​—Bilangan 14:24.

Pribadi roh, termasuk Allah dan malaikat.​—1 Raja 22:21; Yohanes 4:​24.

Semua hal di atas punya kemiripan, yaitu sesuatu yang tidak kelihatan yang bisa menghasilkan sesuatu yang kelihatan. Demikian juga, roh Allah, ”seperti angin, tidak kelihatan, nonmateri dan penuh kuasa”.​—An Expository Dictionary of New Testament Words, oleh W.E. Vine.

Alkitab juga menyebut roh kudus Allah sebagai ”tangan” atau ”jari” Allah. (Mazmur 8:3; 19:1; Lukas 11:20; bandingkan Matius 12:28.) Sama seperti seorang perajin menggunakan tangan dan jarinya untuk bekerja, Allah menggunakan roh kudus-Nya untuk menghasilkan:

Alam semesta.​—Mazmur 33:6; Yesaya 66:​1, 2.

Alkitab.​—2 Petrus 1:​20, 21.

Mukjizat yang dilakukan hamba-hamba-Nya zaman dahulu dan penginjilan mereka yang bersemangat.​—Lukas 4:​18; Kisah 1:8; 1 Korintus 12:​4-​11.

Sifat-sifat baik yang diperlihatkan orang yang taat kepada-Nya.​—Galatia 5:​22, 23.


Roh kudus : Perbezaan antara Kristian dan Yahudi

Sebenarnya terdapat perbezaan antara kepercayaan agama Yahudi terhadap Roh Kudus dibandingkan agama Kristian secara amnya. Dalam agama Kristian, Roh Kudus adalah peribadi ketiga dalam doktrin ketuhanan tritunggal. Berbeza dengan agama Yahudi, mereka menganggap Roh Kudus adalah kekuatan Ilahi yang merupakan sifatNya yang Maha Berkuasa.  

Disini saya petik beberapa penjelasan dari laman web Kristian berkenaan kepercayaan golongan mereka terhadap Roh Kudus. Umpamanya, dalam laman Rubrikkristen.com (5) dinyatakan :  

'Keilahian Roh Kudus, yakni bahawa Roh Kudus adalah Allah, adalah suatu doktrin atau ajaran yang sangat penting dalam iman Kristen. 

Bagi orang kristen, Roh Kudus adalah Allah, yang Ilahi. Roh Kudus bukan hanya suatu kuasa, suasana, atau pengaruh yang tidak berpribadi. Roh Kudus itu adalah suatu pribadi. Dan Dia adalah Pribadi yang Ilahi. Pribadi ketiga dari Allah Tritunggal. 

Sebab memang AlKitab sendiri yang mengajarkan bahawa Roh Kudus adalah Allah, pribadi ketiga dari Allah tritunggal, selain Allah Bapa dan Allah Anak (Yesus Kristus).

Jadi ajaran tentang keilahian Roh Kudus, bahawa Roh Kudus adalah Allah, bukanlah ajaran manusia, yang diciptakan oleh para rasul atau gereja mula-mula, keilahian Roh Kudus adalah ajaran Alkitab sendiri.'

Artikel itu kemudian melanjutkan, 

'Sejatinya ajaran tentang keilahian Roh Kudus sudah muncul bahkan di Perjanjian Lama, walau baru pada zaman Perjanjian Baru hal itu menjadi semakin jelas. 

Melalui istilah 'Roh Allah' kita dapat mengetahui bahawa Roh Kudus sudah hadir di Perjanjian Lama, sekalipun istilah itu baru dapat kita pahami dalam konsep Perjanjian Baru yang menunjuk pada pribadi Roh Kudus. 

Dalam laman Gotquestions.org, disenaraikan beberapa ayat yang menyatakan kepribadian Roh Kudus, 

Kita ketahui bahawa Roh Kudus adalah Bersendirian kerana Dia mempunyai fikiran, emosi dan tekad. Roh Kudus berfikir dan mengetahui (1 Korintus 2:10). Roh Kudus boleh dipisahkan (Efesus 4:30). Roh Kudus membuat rayuan bagi pihak kita (Roma 8:26-27). Roh Kudus membuat keputusan mengikut kehendaknya sendiri (1 Korintus 12:7-11). Roh Kudus ialah Tuhan, Orang Ketiga dalam Triniti. Seperti Tuhan, Roh Kudus boleh berfungsi sebagai Penasihat dan Pembawa ketenangan yang dijanjikan oleh Yesus (Yohanes 14:16,26; 15:26).

Namun sebaliknya bagi penganut Yahudi, Roh Kudus bukanlah suatu peribadi tersendiri. Berikut penjelasan yang saya dapati dari Rabbi Tovia Singer, pengasas Outreach Judasim.

Mengikut Rabbi Tovia Singer (6), Roh kudus dalam Perjanjian Baru mempunyai konsep yang sama dengan Perjanjian Lama hanya saja Kristian yang belakangan cuba menjadikan ia sebagai terpisah dari Tuhan. 

"Roh Kudus tidak terpisah dari Tuhan. Ia sangat bergantung kepada kemampuan kita untuk menangkap dan menerima Roh Kudus dari Tuhan. Keberadaan Tuhan (dalam erti maknawi - bukan hakiki) sangat bergantung sejauhmana kita menerima Tuhan dalam diri kita. Apabila kita menerima Tuhan dalam hidup kita, Roh Kudus akan ada pada diri kita. Roh kudus adalah kehadiran Tuhan yang dinamik dan ia tidak terpisah dari Tuhan. Umapamanya dalam Mazmur 51:11 disebutkan,

Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! (Mazmur 51:11)

Menurut beliau, hukum fizikal juga tidak terpakai dalam menghuraikan keberadaan Roh kudus, dimana ia bukanlah sesuatu objek yang berbentuk fizikal dan mengambil hukum fizik. Apabila Roh kudus berada dalam diri kita, ia bermakna darjat kita telah diangkat oleh Tuhan dan kita sedang berkhidmat kepadaNya. 

Beliau mengumpamakan Roh Kudus seperti gelombang dimana radio atau televisyen menangkap gelombang tersebut dan menukarkannya kepada bunyi yang kita dengar atau gambar yang kita lihat. Roh Kudus secara spesifik merupakan kehadiran Tuhan dalam sistem pancaindera kita (minda, pendengaran dan penglihatan). Selama sistem pancaindera kita dipenuhi Roh Kudus, maka kita dapat menerima dan memproses segala input yang diterima oleh Roh Kudus itu tadi.  

Dengan penjelasan ini kita dapati Roh kudus dalam pemahaman Yahudi bukanlah wujud Tuhan yang lain. Istilah 'peribadi' bukanlah suatu istilah yang wujud dalam naskhah Perjanjian Lama. Ia hanyalah istilah yang digunakan oleh kristian 'profesional'. Menurut Rabbi Tovia Singer, tidak wujud lansung istilah 'peribadi' didalam kitab suci. 

Beliau menegaskan, tiada dikalangan bapa gereja yang awal percaya bahawa Roh Kudus adalah peribadi yang terpisah dari Tuhan Bapa, namun katanya bapa gereja terkemudian cuba menjadikannya sebagai entiti tersendiri yang terpisah dari Tuhan Bapa.

Dalam artikel 'Konsep Roh Suci Menurut Islam Dan Kristian' (7), hal yang serupa ditegaskan: 

Peringkat pertama ialah zaman Perjanjian Lama. Ketika ini Bani Israel tidak membezakan antara tuhan dengan roh tuhan. Mereka akan menggelar segala kuasa tuhan sebagai ruach dan segala perbuatan tuhan disandarkan kepada ruach. Perkataan ruach juga kadangkala dimaksudkan sebagai angin yang menciptakan (Genesis 8:1).

Pendek kata segala kuasa tuhan yang bukan sahaja mematikan dan memusnahkan malah menghidupkan akan disebut sebagai ruach. Namun, Tuhan menjanjikan bahawa akan tiba masa apabila semua tuhan akan melimpahkan roh tuhan ke atas hamba-hambaNya (Ezekial 36:27). Bani Israel ketika ini memahami bahawa roh tuhan yang dimaksudkan adalah satu entiti lain yang terasing daripada tuhan, bukan tuhan sendiri.

Hal yang hampir sama dianut oleh sekte Jehovah Witness meskipun mereka adalah pecahan dari aliran Kristian. Ketika menyebut tentang bantahan kepada aliran tradisional Kristian yang menganggap Roh Kudus adalah peribadi yang tersendiri, mereka menyatakan, 

Dengan menyebut roh Allah sebagai ”tangan”, ”jari”, atau ”napas” Allah, Alkitab menunjukkan bahwa roh kudus bukan suatu pribadi. (Keluaran 15:​8, 10) Tangan seorang perajin tidak bisa bekerja sendiri tanpa pikiran dan tubuhnya; begitu juga, roh kudus Allah hanya bisa bekerja jika Ia mengendalikannya. (Lukas 11:13) Alkitab juga mengibaratkan roh Allah dengan air dan menyebutkannya bersama hal-hal seperti iman dan pengetahuan. Semua perbandingan ini menunjukkan bahwa roh kudus bukanlah suatu pribadi.​—Yesaya 44:3; Kisah 6:5; 2 Korintus 6:6.

Alkitab memberitahukan nama Allah Yehuwa dan Putra-Nya, Yesus Kristus; tapi, nama roh kudus sama sekali tidak ada. (Yesaya 42:8; Lukas 1:​31) Sewaktu Stefanus, seorang martir Kristen, secara mukjizat mendapat penglihatan tentang surga, ia hanya melihat dua pribadi, bukan tiga. Alkitab mengatakan, ”Stefanus, yang penuh dengan roh kudus, menatap ke langit dan terlihatlah kemuliaan Allah dan Yesus yang berdiri di sebelah kanan Allah.” (Kisah 7:​55) Roh kudus adalah kuasa Allah yang bekerja, yang membuat Stefanus bisa menyaksikan penglihatan itu.



Rujukan : 
1) Wikipedia - Holy Spirit in Judaism
2) Siapakah Roh Kudus - Katolisitas.org
3) Siapakah Roh Kudus - Gotquestions.org
4) Apa Roh Kudus Itu? - JW.org
5) 10 Bukti Al-Kitab Bahawa Roh Kudus Adalah Allah - Rubikkristen.com
6) Judaism vs. Christianity on the Holy Spirit — Rabbi Tovia Singer Explores the Origins of the Trinity
7) KONSEP ROH SUCI MENURUT ISLAM DAN KRISTIAN - Adam Badhrulhisham & Khadijah Mohd Khambali@Hambali, University College of Islam Melaka. 78200. Melaka.
Malaysia. Department of `Aqidah & Islamic Thought. Academy of
Islamic Studies. University of Malaya. 








Wednesday, December 16, 2020

Rumitnya memahami Tritunggal


RUMITNYA MEMAHAMI TRITUNGGAL


Saya terbaca disebuah laman(1) tentang bagaimana sulitnya penganut kristian untuk menjelaskan konsep tritunggal. Laman itu mengimbau kembali zaman persekolahannya di mana guru beliau mengalami kesukaran untuk menjelaskan konsep 'satu Tuhan dalam tiga peribadi'. Guru beliau cuba menggunakan pelbagai analogi yang rumit namun semua penjelasan itu tidak membantu malah sebaliknya membuatkan kelas menjadi lebih bingung dari sebelumnya. Hanya sedikit sahaja dari beberapa analogi itu yang dapat memberi gambaran tentang apa yang cuba disampaikan. 

Selama bertahun, para teolog kristian berusaha mengenengahkan pelbagai gambaran atau contoh untuk menjelaskan tentang konsep tritunggal.

Isu yang paling rumit untuk dijelaskan ialah : bagaimana untuk memberi analogi yang paling tepat untuk menyatakan tentang wujud tiga peribadi dalam satu esensi Tuhan?

Apa yang menarik ialah, laman itu sendiri mengakui beberapa analogi-analogi yang popular sebenarnya tidaklah memberi gambaran sebenar tentang konsep tritunggal malah sebaliknya boleh memberi gambaran yang salah tentang konsep itu. Disini saya kongsikan beberapa contoh yang telah diberikan oleh laman tersebut.


Analogi 'Tiga kelopak Daun Semanggi'

Menurut laman itu, analogi ini mungkin yang paling terkenal, dimana ia dikatakan pasti akan digunakan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun di gereja-gereja seluruh negara. 


(Gambar hiasan ) Daun Semanggi atau Shamrock dalam bahasa Inggerisnya 


Kisahnya bermula apabila St.Patrick menggunakan daun tersebut sebagai ilustrasi kepada masyarakat pagan Ireland yang sukar memahami gagasan tritunggal. Menurut laman itu, ia suatu ilustrasi yang agak baik namun ia hanya boleh memberi gambaran yang betul jika entiti Bapa, Anak dan Roh Kudus difahami sebagai entiti yang tersendiri dan masing-masing adalah Tuhan sepenuhnya secara tersendiri. 

Namun malangnya pendekatan ini lebih menjurus kepada fahaman Partialisme. Dari segi sejarah, ia mendorong orang Kristian untuk percaya bahawa setiap entiti dari triniti hanyalah sebahagian dari Tuhan dan hanya menjadi Tuhan sepenuhnya ketika mereka bersatu. Ini sudah tentu suatu gambaran yang salah tentang tritunggal.


Analogi struktur air

Ada yang cuba menggunakan illustrasi struktur air untuk menganalogikan konsep tritunggal, namun sekali lagi ini juga bukan contoh yang baik. Dengan menggunakan penjelasan air yang wujud dalam tiga bentuk : ais, cecair dan wap, tentunya pendekatan ini menjurus kepada faham Modalisme, iaitu idea bahawa Tuhan hanya mewakili dirinya dalam tiga bentuk yang berbeza, tetapi bukan tiga peribadi yang berbeza.

Penggunaan ilustrasi ini seakan memberi gambaran bahawa Tuhan pertama kali memperlihatkan dirinya sebagai Bapa, kemudian sebagai Yesus, kemudian sebagai Roh Kudus. Sudah tentu ini bercanggah dengan konsep tritunggal.


Perumpamaan ayah, suami dan anak lelaki

Disana ada juga mengumpamakan tritunggal seperti seorang lelaki yang berperanan sebagai seorang ayah, suami dan anak lelaki pada masa yang sama. Dia hanyalah satu individu, namun memiliki tiga fungsi yang berbeza. Namun, ini pun masih gagal merangkumi semua aspek yang ada dalam tritunggal. Tuhan Bapa, Anak dan Roh Kudus bukanlah tiga fungsi yang berbeza, namun mereka adalah peribadi yang berbeza dan berdiri secara sendiri.

Dalam contoh tadi, seorang lelaki biasa mungkin mempunyai isteri, anak-anak dan ayah, tetapi dia mengubah peranannya bergantung pada siapa dia berinteraksi. Ini masih belum dapat dibandingkan dengan kerumitan Triniti.

Laman itu kemudian menyebut,

Jadi apa gunanya ilustrasi ini? Haruskah kita berhenti berusaha untuk menjelaskan Triniti dan hanya menerima bahawa bahasa kita tidak akan dapat memberi  penjelasan sepenuhnya merangkumi semua Tuhan itu?

"Menurut Holmes, sama sekali tidak. Dia mengatakan bahawa walaupun tidak akan ada analogi yang lengkap, namun untuk menyerah diri sepenuhnya adalah satu kesilapan."

kata laman itu lagi,

Sekiranya kisah tentang analogi daun Semanggi itu benar, maka dalam situasi opportunistik, itu tidak mengapa. Tetapi jika itulah akhir pemahaman kita tentang Triniti, maka ada sesuatu yang salah, jelasnya.

Saya rasa secara umum masalahnya adalah bahawa gambaran atau metafora yang kita ambil untuk menyampaikan tahap kebenaran tertentu, tetapi dalam masa yang semua ia juga menyesatkan dalam beberapa cara. Masalahnya timbul apabila kita bingung antara kebenaran yang digambarkan, dan apa aspek yang sebenarnya menyesatkan.

Akhinya laman itu menyimpulkan,

Terdapat jauh lebih banyak bagi Tuhan daripada kerumitan triniti dan, bagaimanapun kita memilih untuk melihatnya atau memahami kerumitan Ketuhanan, kita tidak akan pernah sampai ke sana. Sifat Tuhan yang tidak terhingga dan sifat akal manusia yang terbatas bererti kita tidak akan dapat memahami sepenuhnya kesempurnaanNya.


Kesukaran menjelaskan tritunggal

Apabila anda memerhatikan beberapa penjelasan tentang konsep tritunggal, anda akan dapati mereka sebenarnya sukar sekali untuk menjelaskannya dengan sempurna. Umpamanya dalam laman Gotquestions.org (2) dinyatakan,

Perkara yang paling sulit tentang konsep Tritunggal orang Kristian adalah tidak ada jalan yang cukup bagus untuk menjelaskannya. Konsep tritunggal mustahil difahami oleh manusia manapun, apalagi hendak menjelaskannya. Tuhan itu jelas jauh lebih besar daripada kita oleh yang demikian kita tidak boleh berharap untuk dapat memahami Dia dengan sepenuhnya. Alkitab mengajar bahawa Bapa itu Tuhan, Yesus itu Tuhan dan Roh Kudus itu Tuhan. Alkitab juga mengajar bahawa hanya ada satu Tuhan. Walaupun kita dapat memahami beberapa fakta tentang perhubungan di antara peribadi yang berbeza pada Tritunggal, akhirnya ia tidak dapat difahami fikiran manusia dengan sepenuhnya.

Tidak ada satupun daripada contoh-contoh terkenal yang dapat memberikan penjelasan sepenuhnya tentang Tritunggal. Contoh telur (atau epal), adalah contoh yang gagal sebab cengkerang, putih-telur dan kuning-telur setiap satunya adalah bahagian kepada telur tetapi setiap satunya bukanlah telur itu sendiri. Bapa, Anak dan Roh Kudus bukan bahagian-bahagian daripada Tuhan, melainkan setiap satunya adalah Tuhan. Contoh air merupakan contoh yang lebih baik namun ianya satu contoh yang gagal juga. Cecair,wap dan pepejal kesemuanya adalah bentuk-bentuk air. Bapa, Anak dan Roh Kudus bukannya bentuk-bentuk Tuhan, melainkan setiap satunya adalah Tuhan. Jadi, sementara contoh-contoh ini dapat memberikan sedikit gambaran perihal Tritunggal, gambaran yang diberikan tidaklah tepat pada keseluruhannya. Tuhan yang baqa tidak dapat djelaskan dengan menggunakan contoh-contoh yang fana.

Laman Katolisitas.org(3) ketika mengulas misteri tritunggal menyebut,

Memang pada akhirnya, Trinitas hanya dapat dipahami dalam kacamata iman, karena ini adalah suatu misteri (KGK 237.), meskipun ada banyak hal juga yang dapat kita ketahui dalam misteri tersebut. Manusia dengan pemikiran sendiri memang tidak akan dapat mencapai pemahaman sempurna tentang misteri Trinitas, walaupun misteri itu sudah diwahyukan Allah kepada manusia. 

Oleh kerana rumitnya konsep tritunggal ini difahami, St. Agustinus(4) pernah mengatakan, “Kalau engkau memahami-Nya, Ia bukan lagi Allah”. ((St. Agustinus, sermon. 52, 6, 16, seperti dikutip dalam KGK 230.)

Begitulah Tuhan dalam konsep tritunggal, sekiranya anda dapat memahaminya, maka ia bukan lagi Tuhan!


Realiti pemahaman penganut kristian masa kini

Oleh sebab itu tidak hairanlah dalam satu kajian yang dilakukan oleh badan gereja beraliran unitarian mendapati kebanyakan penganut trinitarian yang hadir kegereja sudah lama tidak mempercayai triniti kerana mereka tidak tahu apa itu triniti, atau mereka tidak memahaminya dengan baik dan dengan itu tidak benar-benar "mempercayainya," malah mereka seakan lebih kurang mengabaikan keseluruhan kedudukan doktrin tersebut.(5)

Spirit & Truth Fellowship International adalah sebuah badan non trinitarian, dan mereka telah melakukan banyak perbincangan dan perdebatan dengan penganut trinitarian sejak penubuhannya pada tahun 1989. Pengalaman yang mereka dapati adalah bahawa sebilangan besar mereka yang menghadiri gereja trinitarian secara terbuka mengaku bahawa mereka tidak tahu apa triniti, atau ketika disoal, tidak dapat menentukannya dengan tepat. Berdasarkan pengalaman mereka, banyak pengunjung gereja menganggap triniti itu hanya ada tiga entiti, Allah Bapa, Anak, dan makhluk yang disebut "Roh Kudus."

Lebih mengejutkan, sebilangan besar penganut trinitarian yang mereka temui bahkan tidak percaya bahawa Yesus adalah Tuhan!, apalagi bahawa dia adalah salah satu dari tiga oknum dalam triniti, yang semuanya adalah setara dan bersama-sama dalam satu esensi yang secara bersama membentuk Tuhan Yang Esa dalam pemahaman ortodoksi kristian. 


Rujukan :
1) Why is the Trinity so difficult to understand? - Christian Today
2) Apakah yang diajarkan Alkitab tentang Tritunggal?
3) Trinitas: Satu Tuhan dalam Tiga Pribadi
4) Agustinus dari Hippo - Wikipedia Bahasa Indonesia 
5) Do You Have to Believe in the Trinity to be Saved? - Biblical Unitarian.com





Tuesday, December 8, 2020

Konsep 'Masalah Kekekalan Tuhan' : Tauhid vs tritunggal


KONSEP 'MASALAH KEKEKALAN TUHAN' : TAUHID VS TRITUNGGAL


Dalam membenarkan doktrin tritunggal, para teolog Kristian sanggup mencari apa saja alasan untuk menampakkan doktrin mereka kelihatan logik dan masuk akal. Salah satu daripadanya ialah, doktrin 'masalah kekekalan'. 

Doktrin ini cuba mempertikaikan apakah kesempurnaan sifat Tuhan dapat dicapai sekiranya Tuhan berada dalam keesaan atau ketunggalanNya. Maka mereka berhujah, sekiranya Tuhan mahu menzahirkan sifatNya, Tuhan memerlukan suatu 'pihak' untuk menzahirkan sifat itu.

Berikut saya petik keratan dari laman Katolisitas.org, takkala cuba menghurai tentang sifat kasih Allah, beliau berkata :

Kasih tidak mungkin berdiri sendiri, namun melibatkan dua belah pihak. Sebagai contoh, kasih suami istri, melibatkan kedua belah pihak, maka disebut “saling” mengasihi. Kalau Tuhan adalah Kasih yang paling sempurna, maka tidak mungkin Ia tidak melibatkan pihak lain yang dapat menjadi saluran kasih-Nya dan yang juga dapat membalas kasih-Nya dengan derajat yang sama. Jadi Tuhan itu harus satu, namun bukan Tuhan yang terisolasi, yang semata sendirian; melainkan ada kehidupan kasih timbal balik dalam diri-Nya sendiri. Sebab jika demikian, Tuhan tidak mungkin dapat menyalurkan dan menerima kasih yang sejati.

Kemudian laman itu menolak anggapan bahawa Tuhan menerima balas kasih dari manusia kerana, a) kasih manusia tidak sempurna, dan b) Tuhan telah ada terlebih dahulu untuk jangka waktu yang tak terukur, sampai saat Allah menciptakan langit dan bumi dan segala isinya. Kemudian laman itu menyimpulkan,

Dengan demikian, sangatlah masuk akal, bahwa Allah, yang adalah Kasih yang sempurna, mempunyai “kehidupan batin,” di dalam diri-Nya sendiri dimana Ia dapat memberikan kasih dan juga menerima kembali kasih yang sempurna itu. Dalam kehidupan batin Allah inilah, Kristus ada sebagai Sang Sabda Allah, atau disebut Allah Putra, yang memberikan derajat kasih yang sama kepada Allah Bapa. Hubungan antara Allah Bapa dan Allah Putra adalah hubungan kasih yang demikian sempurna dan kekal, sehingga membuahkan Pribadi Allah yang ketiga yaitu Roh Kudus. Hal kasih timbal balik dalam diri Allah ini terjadi dalam kekekalan, di luar dimensi waktu, sehingga tidak ada yang ada lebih dulu disusul yang lain, tetapi ketiga Pribadi Allah ada bersama-sama dalam kekekalan. (1)

Hujah yang hampir sama juga digunakan oleh laman IsadanIslam.org ketika cuba membawa argumen berkenaan sifat berbicara atau mendengar bagi Allah. Laman itu menyebut :

Tapi kita tahu, tanpa konsep trinitas, dalam kekekalan seakan-akan Allah bisu dan tuli. Mengapa? Sebab bila Allah sendirian dalam kekekalan sebagaimana menurut konsep Tauhid, berarti Allah tidak berbicara atau mendengar. Mungkinkah Allah akan berbicara dalam kekekalan, sementara tidak ada yang mendengarkan? Mungkinkah Dia mendengar suara bila tidak ada oknum yang berbicara kepada-Nya?

Kemudian laman itu menolak kemungkinan Allah menciptakan malaikat untuk menyatakan kesempurnaan sifat berbicaraNya kerana dengan demikian bererti Allah bergantung kepada ciptaanNya. Demikian juga sebaliknya jika Allah hanya berdiam dalam kekekalanNya, kononnya Allah yang sebegitu kurang sempurna. Kemudian laman itu cuba menyimpulkan, konsep tritunggal adalah jawapan kepada permasalahan tersebut.

Demikian dalam kekekalan ada Trinitas: Allah Bapa, Allah Roh, Kalimat Allah. Ini disebut Allah Tri-Tunggal. Dalam kekekalan ada lingkaran kasih dalam keesaan Allah, dimana Allah Bapa, Roh Allah, Kalimat Allah saling-mengasihi, berinteraksi satu sama lain karena beroknum tiga, namun maha esa.

Jelas tidak mudah percaya pada Trinitas. Namun menurut kami, lebih mudah menerima dan percaya Trinitas daripada konsep ketauhidan Allah yang dikemukakan dalam agama Islam. Sulit mempercayai bahwa Allah dalam kekekalan seakan-akan bisu dan tuli.  Karena itu, konsep Tauhid juga sulit diterima! (2)

Untuk menjawab persoalan ini, saya akan mengemukakan beberapa hujah balas terhadap dakwaan mereka ini.


Fahami terlebih dahulu kesempurnaan sifat Allah menurut konsep Tauhid

Didalam perbahasan sifat-sifat Allah dalam akidah Islam, hal pertama yang perlu kita yakini ialah seluruh sifat Allah adalah tinggi, penuh dengan kesempurnaan dan sanjungan.

Berikut adalah huraiannya yang saya petik dari artikel muslim.or.id (3):

Allah Ta’ala berfirman, “Dan hanya kepunyaan Allah-lah matsalul a’la (Sifat yang Maha Tinggi).” (QS. An Nahl: 60). Yang dimaksud matsalul a’la/Sifat-Sifat yang paling tinggi adalah sifat yang paling sempurna.

Di dalam kaidah bahasa Arab mendahulukan ungkapan yang seharusnya ditaruh di belakang (yaitu Lillaahi-Hanya kepunyaan Allah-pent) memiliki fungsi pembatasan dan pengkhususan. Sehingga seolah-olah Allah Ta’ala membatasi sifat-sifat yang paling sempurna itu hanya ada pada-Nya dan Dia Mengistimewakan Sifat tersebut khusus bagi Diri-Nya, inilah gaya bahasa Al Qur’an yang sangat indah!!

Rabb Sesembahan yang berhak menerima peribadahan pasti memiliki Sifat-Sifat yang kesempurnaan-Nya mencapai puncak tertinggi diantara segala macam sifat kesempurnaan. Sebagaimana Allah telah menunjukkan kebatilan penyembahan terhadap berhala-berhala dengan cara mensifati mereka dengan sifat-sifat yang penuh kekurangan.

Untuk penjelasan tambahan, saya petik dari sumber yang sama namun dalam artikel yang berlainan (4) :

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati nama-nama-Nya dalam al-Qur’an dengan al-husna (maha indah) yang berarti kemahaindahan yang mencapai puncak kesempurnaan, karena nama-nama tersebut mengandung sifat-sifat kesempurnaan yang tidak ada padanya celaan/kekurangan sedikitpun ditinjau dari semua sisi. (Lihat kitab “al-Qawaa’idul mutsla” (hal. 21).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

Hanya milik Allah-lah asma-ul husna (nama-nama yang maha indah), maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran) dalam (menyebut dan memahami) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka lakukan” (QS al-A’raaf:180).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآَخِرَةِ مَثَلُ السَّوْءِ وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيم}

Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS an-Nahl :60).

Artinya: Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai sifat kesempurnaan yang mutlak (tidak terbatas) dari semua segi. (Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (2/756).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “(Sifat-sifat) maha sempurna adalah milik Allah, bahkan Dia memiliki (sifat-sifat) yang kesempurnaannya mencapai puncak yang paling tinggi, sehingga tidak ada satu kesempurnaanpun yang tidak ada padanya celaan/kekurangan kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala berhak memilikinya pada diri-Nya yang maha suci” (Kitab “al-Qawa-‘idul mutsla” (6/71).

Berdasarkan dari beberapa penjelasan yang saya kemukakan diatas, ada beberapa poin penting yang dapat kita perhatikan disini :

1) Seluruh sifat Allah adalah tinggi, penuh dengan kesempurnaan dan sanjungan.
2) Sifat-Sifat yang kesempurnaan-Nya mencapai puncak tertinggi diantara segala macam sifat kesempurnaan.
3) Tidak ada padanya celaan/kekurangan sedikitpun ditinjau dari semua sisi.
4) Sifat yang ditetapkan untuk Allah Ta’ala, sesuai dengan (keagungan dan kebesaran) Allah Ta’ala, 

Dengan penjelasan penting ini dapat kita fahami kesempurnaan sifat Allah itu adalah secara menyeluruh. Sifat kesempurnaan Tuhan dalam konsep Tauhid berdiri secara sendiri, tanpa memerlukan sokongan dari pihak lain. Tidak ada sebarang celaan atau kekurangan pada semua sifatnya.


Ketahui apa itu sifat 'sukuut' (diam) bagi Allah

Didalam i'tiqad ahlussunah, terdapat penetapan sifat "sukuut" bagi Allah taala. Berikut penjelasan yang saya ambil dari artikel muslim.or.id (5) ketika melanjutkan  perbahasan tentang sifat kalam Allah di bahagian yang pertama,

Sehingga konsekuensi dari sifat kalam menurut pengertian yang ke dua ini adalah Allah Ta’ala meyakini dan menetapkan adanya sifat “sukuut” (diam) untuk Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berbicara ketika Allah Ta’ala berkehendak untuk bicara. Sehingga sebaliknya, ketika tidak berkehendak untuk berbicara, Allah Ta’ala pun diam (sukuut). Diam di sini tidak sama dengan bisu, karena meskipun tidak berkehendak berbicara, Allah Ta’ala adalah Dzat yang Maha berbicara dan tidak bisu. 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu Ta’ala berkata,

فَثَبَتَ بِالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ أَنَّ اللَّهَ يُوصَفُ بِالسُّكُوتِ؛ لَكِنَّ السُّكُوتَ يَكُونُ تَارَةً عَنْ التَّكَلُّمِ وَتَارَةً عَنْ إظْهَارِ الْكَلَامِ وَإِعْلَامِهِ

“Dalil dari sunnah dan ijma’ menetapkan bahwa Allah Ta’ala itu memiliki sifat sukuut. Akan tetapi, sukuut itu memiliki makna diam dari berbicara, dan terkadang memiliki makna tidak menampakkan pembicaraan.” (Majmu’ Al-Fataawa, 6: 179)

Setelah membawakan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di atas, dalam fatwa Islamweb disebutkan,

فالحاصل أن السكوت صفة ثابتة لله عزوجل ، على ما يليق به سبحانه : ( ليس كمثله شيء وهو السميع البصير) ، ومن تكلم باختياره ومشيئته ، سكت باختياره ومشيئته

“Sebagai kesimpulan, bahwa sukuut adalah sifat yang ditetapkan untuk Allah Ta’ala, sesuai dengan (keagungan dan kebesaran) Allah Ta’ala, “Tidak ada satu pun yang semisal dengan Allah, dan Dia Maha mendengar dan Maha melihat.” Dan siapa saja yang berbicara sesuai dengan keinginan dan kehendaknya, maka dia pun diam sesuai dengan keinginan dan kehendaknya.” (https://library.islamweb.net/ar/fatwa/2634/)

Disebutkan juga dalam Dorar.net,

يوصف ربنا عزَّ وجلَّ بالسُّكوت كما يليق به سبحانه، لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ. وهذا ثابتٌ بالسنة الصحيحة، وهي صفةٌ فعليَّةٌ متعلقة بمشيئته سبحانه وتعالى

“Allah Ta’ala disifati dengan as-sukuut sesuai dengan yang layak bagi Allah Ta’ala, “Tidak ada satu pun yang semisal dengan Allah, dan Dia Maha mendengar dan Maha melihat.” Sifat ini ditetapkan berdasarkan sunnah yang shahih. Sifat ini adalah sifat fi’liyyah, yaitu sifat yang berkaitan dengan kehendak Allah Ta’ala.”  (https://dorar.net/aqadia/926/)

Sifat 'sukuut' adalah sifat Allah yang sabit di dalam AlQuran dan hadith. Namun sesuatu yang perlu diketahui, hal ini tidaklah melazimkan sifat diamnya itu sama dengan diamnya makhluk kerana diamnya Tuhan itu sesuai dengan yang layak bagi kebesaran dan keagungan Allah. Diamnya Allah tidak sama dengan bisu. Dia berbicara jika Dia berkehendak dan diam dengan kehendakNya pula.


Diam tidak bererti tidak sempurna

Berdasarkan dari beberapa penjelasan penting yang saya senaraikan diatas, kita dapat membuat kesimpulan, apakah Allah itu diam atau berbicara, tidak ada bezanya bagi Allah menurut perspektif Islam, kerana semua sifat Allah itu adalah tinggi, penuh dengan kesempurnaan dan sanjungan. Jika Dia berbicara itu menunjukkan kesempurnaanNya, maka begitu juga sebaliknya, diamnya itupun suatu kesempurnaan. Maka apakah ketika Allah menyendiri sebelum menciptakan makhluk atau ketika Dia telah bersama makhluk ciptaanNya, Dia sediakala tinggi, penuh dengan kesempurnaan dan sanjungan.

Hal ini amat berbeza dengan Tuhan dari perspektif tritunggal, kerana Tuhan mereka hanya sempurna ketika berbicara, namun menjadi sesuatu kekurangan/tercela jika Dia tidak berbicara (diam). Maka untuk menutupi kekurangan ini, Tuhan mereka perlu kepada suatu pihak lain untuk melengkapi kekurangan sifat tadi.

Lihat bagaimana kekurangan itu diungkapkan melalui tulisan mereka,

Bila Ia berdiam diri dalam kekekalan sebelum tiba waktu menciptakan sesuatu, berarti dalam kekekalan Ia tidak pernah bicara dan mendengar.

Mungkin ada orang yang puas menyembah Allah yang demikian. Tapi kami tidak siap menyembah Allah yang terpaksa berdiam diri dalam kekekalan. Menurut kami, Allah yang demikian kurang sempurna.


Menggunakan argumentasi logis sebagai bantahan keatas konsep 'masalah kekekalan'

Untuk menampakkan konsep 'masalah kekekalan' mereka itu kelihatan logik, laman Isadanislam.org umpamanya memetik sebuah kisah novel karangan Daniel Defoe sebagai contoh, beliau menyebut :

Robinson Crusoe, tokoh fiktif dalam karangan Daniel Defoe yang diterbitkan tahun 1719, tinggal sendirian di sebuah pulau selama 28 tahun. Selama itu, ia tidak pernah bertemu seseorang, sehingga dia tidak pernah berbicara. Tidak mungkin dia berbicara dengan hewan, tumbuhan, atau dengan dirinya sendiri, bukan? Tanpa adanya makhluk sejenis menjadi lawan bicara, ia seakan-akan menjadi bisu.

Karena tidak ada manusia lain, dia tidak dapat mendengar suara manusia, percakapan manusia, atau penjelasan dari sesama. Dari segi tukar pikiran dengan sesama manusia, ia juga seakan-akan tuli. Bagaimana dengan Allah? Tentunya sama, tanpa konsep trinitas dalam kekekalan seakan-akan Allah bisu dan tuli.

Berdasarkan petikan kisah ini, mereka cuba memberi gambaran bahawa bersendirian itu suatu kekurangan. Lalu mereka menganalogikan ia dengan Tuhan.

Jika inilah kaedah logik yang mereka cuba gunakan, maka saya juga boleh menggunakan beberapa contoh disekeliling kita. Umpamanya, mengapa ramai orang berlumba lumba menjadi orang yang pertama dan terawal dalam setiap perkara? mengapa ada orang begitu berbangga menjadi orang terawal sampai ke puncak Gunung Everest? atau mengapa ada orang begitu berbangga menjadi warga negara yang pertama sampai ke bulan? atau meneroka hutan belantara yang belum pernah diterokai oleh sesiapapun, hatta, apabila ada sesuatu gedung baru dilancarkan, manusia berlumba-lumba untuk menjadi yang terawal 'menjejakkan kaki' dan 'merasmikannya'. Mereka bangga mengungkapkan, "akulah yang pertama dan terawal sampai ke tempat sekian sekian......"

Mengapa 'kejayaan' sedemikian tidak begitu dihargai dan kurang nilainya jika diperoleh secara bersama? kita pasti akan mengakui hakikat bahawa kita mungkin akan memperoleh keseronokan dan kegembiraan apabila memperolehnya secara bersama, namun kita kekurangan sesuatu...

Ya, adakalanya bersendirian itu menjadi suatu bentuk kebanggaan dan kemasyhuran. Ketika perasaan bangga menguasai diri, mereka tidak terfikir apakah pada ketika itu mereka rasa ada keperluan untuk ditemani untuk menghilangkan rasa bosan. Demikian juga dengan Tuhan, menjadi yang pertama dan terawal (dalam ketunggalanNya) adalah suatu bentuk keagungan dan kebesaran bagi Tuhan, dan sudah tentu ia sangat berbeza dengan makhluk. Itulah sebabnya Allah memiliki nama AI-Awwal. Saya petik penjelasannya dari artikel muslim. or.id sebagai berikut :

Nama Allah “Al-Awwal” ditafsirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan “Tidak ada sesuatu pun yang mendahului-Mu”. Hal ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang paling awal (pertama) secara mutlak, tidak ada satu pun yang lebih dulu ada daripada Allah Ta’ala. Bukan Dzat yang awal namun relatif, maksudnya adalah Dzat yang awal dilihat dari sesuatu yang datang setelahnya, tapi ada sesuatu yang mendahului sebelumnya. Ini adalah “awal” yang sifatnya relatif. Akan tetapi, Allah adalah Dzat yang awal secara mutlak, tidak ada sesuatu pun yang mendahului Allah Ta’ala.(5)

Terkadang, tidak semua yang menjadi kekurangan pada makhluk itu juga merupakan kekurangan kepada Tuhan, dan tidak semua yang menjadi kesempurnaan pada makhluk itu juga merupakan kesempurnaan pada Tuhan, umpamanya makan dan tidur. Tuhan dan makhluk merupakan dua entiti yang berbeza.

MemerIukan teman sebagai pelengkap untuk berinteraksi, adalah sifat manusia yang perlu bersosial. Oleh sebab itu, bersendirian itu adalah kekurangan bagi makhluk. Namun sebaliknya, bersendirian dalam ketunggalanNya adalah suatu bentuk keagungan dan kebesaran bagi Tuhan.


Al-Ghaniy (Maha Kaya), jawapan kepada argumen rasa kasih Tuhan

Saya ambil penjelasan berikut dari laman Al-manhaj.or.id berkenaan sifat Allah Al-Ghaniy (Maha Kaya) :

Al-Ghaniy merupakan salah satu nama Allah Azza wa Jalla yang sangat indah. Keindahannya terletak pada nama dan makna-Nya. Nama ini, sebagaimana nama-nama Allah Azza wa Jalla lainnya, juga menunjukkan sifat kesempurnaan bagi Allah Azza wa Jalla , yaitu Kesempurnaan yang tidak mengandung unsur kelemahan sedikitpun ditinjau dari semua sudutnya.

Imam al-Baihaqi (wafat th.458 H) memasukkannya ke dalam bab nama-nama Allah Azza wa Jalla yang penekanannya meniadakan penyerupaan antara Allah Azza wa Jalla dengan makhluk-Nya. Sebagai dalil bahwa al-Ghaniy merupakan nama Allah Azza wa Jalla . beliau membawakan firman Allah Azza wa Jalla :

وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ

Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang memerlukan(Nya). [Muhammad/ 47:38].

Selanjutnya, beliau rahimahullah membawakan perkataan al-Hulaimi tentang makna nama al-Ghaniy, yaitu: Bahwa Allah Azza wa Jalla Maha sempurna dengan apa yang Dia miliki dan apa yang ada disisi-Nya, Sehingga Dia tidak perlu kepada selain-Nya. Sifat tidak memerlukan inilah yang menjadi sifat Allah Azza wa Jalla, dan sifat memerlukan adalah sifat kekurangan. Seseorang yang memerlukan adalah seseorang yang memerlukan apa yang diperlukannya hingga dapat ia capai dan ia raih.

Sementara itu, pihak yang diperIukan pasti memiliki kelebihan dibandingkan pihak yang memerlukan. Jadi, segala sifat kurang tidak pernah ada pada Allah Azza wa Jalla dzat Yang Maha Qadîm (Maha terdahulu). Sifat lemah tidak pernah ada pada-Nya, dan tidak ada siapapun yang dapat melebihi Allah Azza wa Jalla . Segala sesuatu selain Allah Azza wa Jalla adalah makhluk yang diciptakan dan diadakan oleh-Nya, mereka tidak memiliki kewenangan apapun atas dirinya, kecuali menurut apa yang dikehendaki dan diatur oleh Allah Azza wa Jalla . Oleh kerana itu, tidak boleh dibayangkan bahwa selain Allah Azza wa Jalla masih ada yang berpeluang memiliki kelebihan atas Allah Azza wa Jalla. (Lihat Al-Asmâ’ was Shifât hal. 49-50).

Jika anda membandingkan konsep Tauhid dengan tritunggal, maka anda akan dapati Tuhan dalam konsep tritunggal begitu lemah dan bergantung kepada pihak lain untuk menyatakan kasihNya. Perhatikan semula petikan yang saya ambil dalam laman Katolisitas.org :

Kalau benar bahwa Tuhan menyalurkan kasih-Nya kepada manusia agar sempurna di dalam Kasih, maka ada satu masa—masa yang amat panjang sebelum manusia ada—Tuhan tidak dapat menyalurkan kasih-Nya, dan artinya Ia tidak sempurna di dalam Kasih. 

Bandingkan pula dengan perkataan Al-Hulaimi sepertimana yang dipetik oleh Imam Al-Baihaqi :

Bahwa Allah Azza wa Jalla Maha sempurna dengan apa yang Dia miliki dan apa yang ada disisi-Nya, Sehingga Dia tidak perlu kepada selain-Nya. Sifat tidak memerlukan inilah yang menjadi sifat Allah Azza wa Jalla, dan sifat memerlukan adalah sifat kekurangan.

Saya bawakan satu lagi kenyataan dari laman Katolisitas.org sebagai perbandingan :

Kalau Tuhan adalah Kasih yang paling sempurna, maka tidak mungkin Ia tidak melibatkan pihak lain yang dapat menjadi saluran kasih-Nya dan yang juga dapat membalas kasih-Nya dengan derajat yang sama. 

Jadi Tuhan itu harus satu, namun bukan Tuhan yang terisolasi, yang semata sendirian; melainkan ada kehidupan kasih timbal balik dalam diri-Nya sendiri. Sebab jika demikian, Tuhan tidak mungkin dapat menyalurkan dan menerima kasih yang sejati.

Nah, anda bandingkan pula dengan sifat Tuhan menurut konsep Tauhid,

Seseorang yang memerlukan adalah seseorang yang memerlukan apa yang diperlukannya hingga dapat ia capai dan ia raih.

Sementara itu, pihak yang diperIukan pasti memiliki kelebihan dibandingkan pihak yang memerlukan. Jadi, segala sifat kurang tidak pernah ada pada Allah Azza wa Jalla dzat Yang Maha Qadîm (Maha terdahulu).

Oleh kerana itu, tidak boleh dibayangkan bahwa selain Allah Azza wa Jalla masih ada yang berpeluang memiliki kelebihan atas Allah Azza wa Jalla.

Anda dapat lihat dalam konsep Tauhid, sifat memerlukan adalah sifat yang lemah, sebaliknya dalam konsep tritunggal ia dilihat sebagai penyempurna dan pelengkap. Akal yang berdiri diatas fitrah yang sihat akan mengakui sesuatu yang memerlukan itu hakikatnya bersifat lemah. Sebaliknya yang tidak memerlukan itulah sifat yang sempurna dan perkasa. Segala puji bagi Allah yang memiliki sifat Al-Ghaniy (Maha Kaya)! Dia tidak perlu kepada sesiapapun untuk menyatakan rasa kasihNya, kerana kasih Tuhan yang Maha Kaya itu berdiri dengan sendirinya!


Konsep 'masalah kekekalan' juga kontradik dengan isi kandungan Alkitab

Sebenarnya jika kita amati, konsep 'masalah' kekekalan juga sebenarnya tidak cocok dengan petunjuk didalam alkitab. Mari kita perhatikan beberapa dalil berikut.

Yesaya 44:6 : Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: "Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.

Yesaya 45:5: Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku,

45:6 : supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain,

Daripada tiga ayat diatas kita dapat lihat  dengan tegas  bahawa Allah itu esa dengan ketunggalanNya. Didalam ayat yang pertama disebutkan bahawa Allah itu terdahulu dan terkemudian, kemudian diiringi dengan penegasan bahawa tidak ada Tuhan selain Dia. Penekanan tentang keesaan yang sama juga didapati pada ayat kedua dan ketiga. Hal ini bukan sahaja menafikan konsep 'masalah kekekalan' yang direka oleh mereka tetapi menafikan konsep tritunggal itu sekaligus.

Kata 'Aku' merujuk kepada satu peribadi. Apabila kita berkata-kata, kita menggunakan kata ganti diri 'Aku'. Ini bererti, tidak mungkin kita menggunakan kata diri 'Aku' jika kita sedang berdua atau bertiga. Sudah tentu kita akan menggunakan kata ganti diri 'Kami'. Didalam mana-mana bahasa didunia pun, ini adalah suatu perkara yang sangat asas. Tidak perlu untuk kita membuka kamus untuk menyelam dengan lebih dalam.

Jika Allah sendiri dengan tegas menyatakan ketunggaIanNya sejak terdahulu dan terkemudian, maka dengan siapakah Dia berbicara dan mendengar?? atau menyatakan rasa kasihNya?

Hal ini menunjukkan, Allah itu sempurna seadanya sekalipun Dia menyendiri sebelum kesemua alam semesta ini dicipta. Dia tidak perlu kepada mana-mana pihak untuk menyatakan rasa kasih atau menzahirkan sifat berbicara atau mendengarNya.

Tidak mungkin Tuhan berbicara dalam ketunggalan namun mewakili tiga oknum, kerana itu bercanggah dengan konsep tritunggal yang lazimnya difahami oleh majoriti aliran kristian. Anda boleh rujuk artikel saya yang bertajuk Triniti Suatu Ilusi untuk memahami dengan lebih lanjut tentang konsep tritunggal.

Kesimpulannya, konsep tritunggal bukan sahaja amat lemah jika dibandingkan dengan konsep Tauhid, malah ia boleh dicabar dengan logik akal dan yang lebih malangnya bercanggah dengan isi kandungan Al-kitab sendiri!!

Masihkah anda percaya Tuhan perlukan pihak lain untuk berbicara dan menyatakan rasa kasihNya?




Rujukan :

1 - Bagaimana menjelaskan Trinitas dari argumentasi kasih? - katolisitas.org
2 - Tanpa Konsep Trinitas, Allah Seakan-akan Bisu dan Tuli - www.isadanislam.org
3 - Kaidah-Kaidah Penting untuk Memahami Nama dan Sifat Allah (Bag. 3)
4 - Kesempurnaan di atas Kesempurnaan dalam Nama dan Sifat Allah
5 - Mengenal Nama Allah “Al-Awwal”, “Al-Akhir”, “Azh-Zhahir” dan “Al-Bathin”
6 - Al-Ghaniy, Maha Kaya - almanhaj.or.id






Sunday, November 29, 2020

Benarkah Yesus itu Tuhan kerana disembah?


BENARKAH YESUS ITU TUHAN KERANA DISEMBAH?


Diantara dakwaan ketuhanan Yesus yang kerap dijaja oleh penganut Kristian ialah Yesus menerima sembahan. Diantara sekian banyak hujah-hujah yang mereka gunakan didalam Al-Kitab antaranya ialah :

Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem. (Matius 2:1) dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia." (Matius 2:2)

Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur. (Matius 2:11)

Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah." (Matius 14:33)

Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.(Matius 28:17)

Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya, (Markus 5:6)

Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. (Lukas 24:52)

Laman Gotquestions.org ketika mengulas berkenaan 'penyembahan' kepada Yesus menyebut :

Menyembah berarti "penghormatan yang diberikan kepada sosok illahi." Jika Yesus disembah dan menerima penyembahan, maka Ia sedang menegaskan keillahianNya. Ini penting karena adapun orang yang menolak keillahian Kristus, mengesampingkanNya kepada posisi yang bukan illahi. Ya, Yesus menerima disembah. Sebagai Pribadi kedua dari Tritunggal, pada waktu itu maupun sekarang tetap disembah.

Didalam ayat lain, mereka berhujah penyembahan kepada manusia atau malaikat adalah praktik yang dilarang. Umpamanya didalam Kisah Para Rasul 10:25 dan 26 disebutkan :

Ketika Petrus masuk, datanglah Kornelius menyambutnya, dan sambil tersungkur di depan kakinya, ia menyembah Petrus. Tetapi Petrus menegakkan dia, katanya: "Bangunlah, aku hanya manusia saja."(Kisah Para Rasul 10:25 - 26)

Manakala didalam peristiwa yang lain disebutkan,

Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: "Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah! Karena kesaksian Yesus adalah roh nubuat." (Wahyu 19:10).

Setelah itu beliau menyimpulkan,

"Di dalam semua peristiwa ini tidak ada kes dimana Yesus menyuruh mereka berhenti menyembah DiriNya ataupun melarangnya. Sedangkan jika manusia biasa, ataupun malaikat disembah secara salah, mereka akan melarang dan menghentikan praktik itu karena tidak diperbolehkan".

Hujah yang hampir sama digunakan oleh laman Isayesus.blogspot ketika mengulas cabaran sebahagian muslim berkenaan dakwaan adakah wujud ucapan Yesus yang berbunyi, "Akulah Tuhan dan sembahlah Aku". Laman itu menyebut :

Sekarang, bila Yesus harus memerintahkan orang-orang se-zamanNya untuk sujud-menyembah Dia, maka sesungguhnya tidak ada signifikansinya sama sekali. Namun demikian dapat kita temukan dalam bukti-bukti Alkitabiah, bahwa meskipun Yesus tidak minta disembah, namun Ia tidak pernah menolak/melarang orang menyembahNya.

Laman itu membawa beberapa contoh bagaimana Yesus disembah, antaranya,

Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku." (Matius 8:2)

Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: "Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup." (Matius 9:18)

Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: "Salam bagimu." Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. (Matius 28:9)

Kata laman itu lagi,

Jadi, dalam kes diatas, bila Yesus benar hanya seorang Guru atau Nabi dan bukan Tuhan, maka Ia pasti dan harus berteriak lantang : "Aku bukan Tuhan, jangan sembah Aku". Bahkan teriakan ini harus dilakukan segera dan berulang-ulang demi mencegah jangan ada seorangpun yang sampai memper-tuhan-kan dan menyembah diriNya. Karena dosa ini adalah dosa yang amat serius (yang diperingatkan secara khusus), ketimbang dosa yang tidak menyembah Tuhan karena ia tahu itu Tuhannya!.

Laman itu membuat kesimpulan :

"proskunêsai" dan "prosekunêsan" kata dasarnya adalah "proskunêo", "menyembah". Kata Yunani yang dipakai untuk penyembahan kepada Allah Bapa adalah "proskunêo". Penyembahan ini tidak bisa lain karena Allah itu Mahamulia yang tidak dimiliki dan tidak pernah diberikan kepada siapapun lainnya. tu sebabnya "proskunêo" yang sama kepada Allah Bapa terbukti dipakai untuk penyembahan kepada Yesus Kristus di seluruh Alkitab Perjanjian Baru.

Mari kita analisis sejauhmana kebenaran dakwaan mereka ini.

Sanggahan pertama : Meneroka maksud 'menyembah' yang dilakukan terhadap Yesus.

Jika anda lihat kebanyakan ayat-ayat yang dikemukakan diatas kebanyakannya menggunakan berasal dari kata akar προσκυνέω (proskuneó) yang diterjemah kedalam bahasa Inggeris sebagai 'worship' atau dalam bahasa melayu sebagai 'menyembah'.

Sebenarnya, perkataan προσκυνέω (proskuneó) dalam teks asal yunani mempunyai beberapa maksud, yakni penghormatan (kepada makhluk), dan juga sembahan kepada Tuhan. Mari kita perhatikan beberapa maksud προσκυνέω (proskuneó) berdasarkan Kamus Thayer's Greek Lexicon :

1) very often for הִשְׁתַּחֲוָה (to prostrate oneself); properly, to kiss the hand to (toward) one, hence, among the Orientals, especially the Persians, 
2) to fall upon the knees and touch the ground with the forehead as an expression of profound reverence
3) by kneeling or prostration to do homage (to one) or make obeisance, whether in order to express respect or to make supplication.
a) of homage shown to men of superior rank: (the Jewish high-priests are spoken of in Josephus)
b) of homage rendered to God and the ascended Christ, to heavenly beings, and to demons.

Jika saya terjemah ke dalam bahasa melayu :

1) untuk mencium tangan (ke arah) seseorang, sebagai tanda penghormatan di kalangan orang-orang Timur, terutama orang-orang Persia,
2) jatuh ke atas lutut dan menyentuh tanah dengan dahi sebagai ungkapan penghormatan yang mendalam,
3) dengan berlutut atau sujud untuk melakukan penghormatan (kepada seseorang) atau bersujud, sama ada untuk menyatakan rasa hormat atau untuk memohon, ia digunakan untuk;
a) sebagai penghormatan yang ditunjukkan kepada orang-orang yang berpangkat tinggi; (kepada imam-imam besar Yahudi yang disebut dalam Josephus),
b) sebagai penghormatan yang diberikan kepada Tuhan dan Kristus yang telah naik, kepada makhluk syurgawi, dan kepada syaitan. 




Sekadar gambar hiasan


Laman Sarapan Pagi Biblika pula saya lihat lebih 'jujur' ketika menghurai kata 'menyembah' seperti yang terdapat dalam Matius 2:2-11, laman itu menyebutkan :

προσκυνησαι - proskunêsai kata dasarnya adalah προσκυνεω - proskuneo, "menyembah" dalam bentuk aorist aktif infinitif. Kata ini digunakan baik "menyembah" Allah (Matius 4:10; Lukas 4:8; Yohanes 4:24; dst.) maupun "menyembah" manusia (Imam Besar Yahudi, orang yang disegani, orang tua), bahkan untuk "menyembah" berhala, dan setan.

Dalam bahasa Ibrani, kata "menyembah" menggunakan kata שָׁחָה - SHAKHAH, kutipan HaBrit HaKadasya di atas menulis לְהִשְׁתַּחֲוֹת - LEHISH'TAKHAVOT yaitu kata SHAKHAH plus prefiks dan suffiks sesuai dengan kaidah tata bahasa Ibrani. Tanakh Ibrani juga menggunakan kata שָׁחָה - SHAKHAH buat Allah dan buat manusia.

Berdasarkan daripada beberapa penafsiran diatas, yang mana satukah yang terpakai untuk Yesus? sudah tentu konteks. Untuk mengetahui konteksnya, kita perlu melihat kepada petunjuk atau dalil lain yang boleh memberi penafsiran yang tepat daripada sekian banyak definisi diatas.

Cuba perhatikan ayat ini betul-betul :

Matius 4:8: Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,

Matius 4:9: dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku."

Matius 4:10: Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"

Daripada ayat ini, anda dapat lihat dengan jelas Yesus sendiri memberi perakuan bahawa yang hanya layak disembah ialah Allah.

Berdasarkan daripada  penjelasan ayat diatas, yang mana satukah definisi 'menyembah' yang sepatutnya lebih sesuai diberikan kepada Yesus? ya sudah tentu 'menyembah' yang dimaksud adalah sekadar sembah hormat, bukan sembah dengan diiringi pengagungan layaknya Tuhan. Jelas disini, sembah hormat yang diterima Yesus tidak menjadikan beliau setaraf dengan Tuhan. 

Sanggahan kedua : Sujud menyembah adalah suatu perlakuan hormat yang menjadi kebiasaan dalam istilah Bible.

Didalam Al-Kitab, anda akan temui bahawa ada para Nabi yang disembah namun ia tidaklah menjadikan mereka Tuhan atau memiliki sifat keIlahian. Sebagai contoh,

Genesis 37:9: Lalu ia memimpikan pula mimpi yang lain, yang diceritakannya kepada saudara-saudaranya. Katanya: "Aku bermimpi pula: Tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepadaku."

Genesis 42:6: Sementara itu Yusuf telah menjadi mangkubumi di negeri itu; dialah yang menjual gandum kepada seluruh rakyat negeri itu. Jadi ketika saudara-saudara Yusuf datang, kepadanyalah mereka menghadap dan sujud dengan mukanya sampai ke tanah.
 
Ini adalah kisah Nabi Yusuf didalam tentang bagaimana saudara-saudaranya sujud menyembah kepadanya. Namun demikian ia tidaklah menjadikan Nabi Yusuf Tuhan seadanya. Mari kita lihat contoh lain pula.

Genesis 49:8: Yehuda, engkau akan dipuji oleh saudara-saudaramu, tanganmu akan menekan tengkuk musuhmu, kepadamu akan sujud anak-anak ayahmu.

1 Samuel 25:24: Ketika Abigail melihat Daud, segeralah ia turun dari atas keledainya, lalu sujud menyembah di depan Daud dengan mukanya sampai ke tanah.

2 Samuel 9:6: Dan Mefiboset bin Yonatan bin Saul masuk menghadap Daud, ia sujud dan menyembah. Kata Daud: "Mefiboset!" Jawabnya: "Inilah hamba tuanku."

2 Samuel 14:33: Kemudian masuklah Yoab menghadap raja dan memberitahukan hal itu kepadanya. Raja memanggil Absalom, dan ia masuk menghadap raja, lalu sujud ke hadapan raja dengan mukanya ke tanah; lalu raja mencium Absalom.

2 Sameul 15:5: Apabila seseorang datang mendekat untuk sujud menyembah kepadanya, maka diulurkannyalah tangannya, dipegangnya orang itu dan diciumnya.
 
Anda dapat lihat Nabi Daud dan raja yang disembah Absalom juga tidak dianggap Tuhan hanya kerana sembahan itu. Mengapa? kerana ia adalah bentuk budaya hormat yang wujud pada waktu itu, sama halnya dengan Yesus. Wajarlah mereka tidak menghalang apabila diri mereka diberi sembah horrmat. Argumen kononnya Yesus tidak menghalang orang dari menyembahnya kerana memahami akan keilahiannya adalah tertolak. Jika demikian, wajar saja Nabi Yusuf, Nabi Daud atau raja dalam ayat diatas dianggap Tuhan kerana tidak menghalang orang dari menyembah mereka.

Jika demikian, mengapa Petrus mengelak untuk disembah oleh Kornelius?

Ketika Petrus masuk, datanglah Kornelius menyambutnya, dan sambil tersungkur di depan kakinya, ia menyembah Petrus. Tetapi Petrus menegakkan dia, katanya: "Bangunlah, aku hanya manusia saja."(Kisah Para Rasul 10:25 - 26)

Pertama sekali, kita perlu menilai, apakah setiap orang yang mengelak untuk disembah hormat itu menganggap bahawa dirinya telah diagungkan layaknya Tuhan oleh orang yang memberi sembah hormat? apakah tidak wujud kebarangkalian lain selain dari faktor tadi? Maka hal ini sangat berkait dengan persepsi yang ada dalam minda kita.

Persoalan saya, mengapa kita tidak mellihat keengganan Petrus itu lahir dari sifat rendah diri beliau? 

Perhatikan bagaimana keengganan Petrus ketika kakinya ingin dicuci oleh Yesus takkala Yesus mencuci kaki murid-muridnya yang lain dalam satu ritual yang tercatat dalam Yohanes 13:5-16.

13:6: Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?"

13:7: Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak."

13:8: Kata Petrus kepada-Nya: "Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya." Jawab Yesus: "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku."

13:9: Kata Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!"

Peristiwa ini menunjukkan, Petrus mempunyai sifat rendah diri dan menganggap dirinya tidak layak untuk dicuci kakinya oleh Yesus. Dalam hal ini, Petrus menunjukkan sikap yang agak berbeza dengan murid-murid Yesus yang lain. Maka tidakkah hal yang sama dialami beliau ketika Kornelius melakukan sembah hormat kepada beliau. Oleh sebab itu kata-kata  Petrus yang terabadi dalam 1 Petrus 5:57 menyebut:

Demikian juga kamu, orang muda, hendaklah kamu taat kepada orang yang lebih tua. Hendaklah kamu semua merendahkan diri dan saling melayani, kerana di dalam Alkitab tertulis, “Allah menentang orang yang sombong, tetapi Dia merahmati orang yang rendah hati.” Oleh itu, rendahkanlah diri kamu ke bawah tangan Allah yang berkuasa, supaya Dia meninggikan kamu pada masa yang ditetapkan-Nya.

Berkenaan dengan ayat didalam Revelation/Wahyu 19:10, hal ini sebenarnya merujuk kepada ketakjuban Yohanes dengan apa yang dilihatnya tentang alam ketuhanan. Rasa takjub itulah membuatkan beliau tersungkur dihadapan malaikat.

Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: "Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah! Karena kesaksian Yesus adalah roh nubuat." (Revelation/Wahyu 19:10).

Dan ketakjuban yang beliau alami itu membuatkan beliau tersungkur dalam keadaan merendah diri/merasa kagum kepada kuasa yang lebih besar dan agung. Inilah bentuk penghormatan yang tidak boleh diberikan kepada sesiapapun kecuali Tuhan. Inilah sebabnya mengapa malaikat dalam ayat itu melarang Yohanes sujud menyembah kepadanya.


Sanggahan ketiga : Sesuatu istilah boleh bertambah definisinya berdasarkan kefahaman baru yang berkembang keatas istilah tersebut.

Tentu ada yang berkata : Bukankah dalam sekian banyak definisi προσκυνέω (proskuneó) diatas, didalamnya juga disebut 'sebagai penghormatan yang diberikan kepada Tuhan dan Kristus yang telah naik, kepada makhluk syurgawi, dan kepada syaitan.' Lalu mengapa definisi itu ditolak?

Baiklah, didalam dua hujah yang telah saya berikan sebelumnya, saya telah membentangkan bagaimana definisi itu ditolak berdasarkan dalil atau petunjuk dari ayat lain didalam Alkitab, dimana Yesus memberi isyarat bahawa penyembahan untuk Tuhan hanyalah kepada Allah dan bukan kepada dirinya.

Dalam sanggahan kedua, saya telah berikan hujah bagaimana sembah hormat yang diterima Yesus adalah dalam konteks budaya hormat yang wujud pada waktu itu, dan bukan dalam konteks Tuhan yang menerima sembah dengan disertai rasa pengagungan dan penghambaan.

Dan sewajarnya, setelah memahami dua hujah diatas, wajar pula kita beralih kepada perbincangan seterusnya, bagaimana sesuatu istilah itu boleh bertambah definisinya kerana faktor berkembangnya kefahaman baru yang diterapkan kepada istilah tersebut.

Sebagai contoh, perkataan sembahyang. Jika anda merujuk kamus dewan, sembahyang bermaksud :

Definisi1 (dlm agama Islam) ibadat yg terdiri drpd niat, beberapa perbuatan dan bacaan yg dimulakan dgn takbiratulihram dan disudahi dgn salam; solat: ~ zuhur. 2 (bagi orang bukan Islam) permohonan kpd Tuhan; doa.

Namun, sesuatu yang perlu ditelusuri, perkataan sembahyang yang difahami oleh orang melayu kini dalam bahasa Arabnya adalah 'Solat'. Maka jika 'Solat' adalah perkataan Arab yang istilahnya memang wujud dalam Alquran dan Sunnah, lantas dari mana datangnya istilah sembahyang ini? Jawapannya, sudah tentu ia berakar umbi dari kepercayaan melayu kuno.

Sebelum datangnya agama Hindu dan Budha, masyarakat Melayu sudah memiliki agama tersendiri iaitu Kapitayan. Kapitayan adalah kepercayaan yang terdapat di kalangan orang Jawa purba. Tuhan utama bagi ajaran ini dikenali sebagai Sang Hyang Taya.

Menurut Abdul Rahman Haji Abdullah (1990) dalam Pemikiran Umat Islam di Nusantara, Hyang yang asalnya dikaitkan dengan roh nenek moyang sebenarnya diperkuat dengan maksud dewa. Maka dengan itu timbullah istilah ‘sembahyang’ bermaksud menyembah Hyang atau menyembah dewa.

Lihat bagaimana perkataan 'sembahyang' yang pada asalnya mempunyai definisi tersendiri akhirnya digantikan oleh definisi baru setelah kedatangan Islam ke tanah melayu. Perkataan itu kekal, namun maksudnya telah berubah.

Maka, maksud sesuatu perkataan bukanlah dinilai pada apa yang tertera pada kamus semata-mata, namun juga harus merujuk pada sejarah dan kebudayaan yang melatari istilah tersebut. Dalam hal ini, perkataan προσκυνέω (proskuneó) secara historis hanya merujuk samada sembah hormat kepada manusia atau kepada Tuhan sahaja. Berdasarkan dari dua hujah yang saya telah bentangkan, anda akan dapati jika ia digunakan kepada manusia, maka ia merujuk kepada sembah hormat biasa, dan bila ia digunapakai untuk merujuk hubungan dengan Tuhan, ia adalah sembah pengagungan.

Namun, seiring dengan sejarah perkembangan agama Kristian dan munculnya kepercayaan bahawa Yesus itu Tuhan, maka istilah προσκυνέω (proskuneó) didiktekan sebagai penyembahan kepada Kristus sebagaimana layaknya Tuhan disembah. Nyatalah ia suatu definisi baru yang telah diberikan kepada istilah tersebut dan ia datang kemudian.


Sanggahan keempat: Setiap yang disembah tidak automatik menjadikannya Tuhan, kerana syaitan juga disembah, namun ini tidak bererti syaitan menjadi Tuhan.

Saya rasa kelakar apabila laman Isayesus.blogspot menyebut :

Tahukah para skeptis bahwa orang Yahudi dikala itu selalu tahu bahwa yang dinamai Tuhan itu hanya jikalau Ia disembah. Dan apa atau siapa yang disembah sujud, itulah (dianggap) Tuhan!

Itu adalah definisi sejak manusia berhubungan dengan Tuhan. Itu bukan berita khusus bagi kaum Yahudi. Tuhan disembah bukan karena Dia yang pertama-tama menuntut, melainkan akibat dari kedasyatan kuasa dan kemuliaanNya, yang menggetarkan hati manusia, maka Ia dipercayai, diakui, diandalkan, ditakuti dan dihormati dalam hidup dan sesembahan kita.

Ini adalah suatu dakwaan yang kelakar. Cuba fikirkan, sepanjang sejarah betapa banyak manusia dahulukala yang merasai 'kedahsyatan kuasa' dari fenomena alam semesta seperti letusan gunung berapi, ombak laut yang besar, arus sungai yang deras hinggalah kepada misteri hutan belantara. Manusia primitif ini melakukan pelbagai upacara penyembahan untuk 'mententeramkan' penjaga-penjaga alam tadi. Cuba tanya diri kita, adakah sekadar perasan manusia itu menjadi hujah untuk menentukan Tuhan yang sebenar?

Sepanjang sejarah juga manusia dari pelbagai peradaban melakukan hubungan silang dimensi dengan makhluk ghaib. Mereka merasai 'kedahsyatan kuasa' dan 'kemuliaan' makhluk ghaib yang mereka sembah. Namun adakah semua itu sudah cukup menjadikan makhluk-makhluk ghaib tadi sebagai Tuhan?   

Makhluk tetap makhkuk. Beberapa diktator dalam sejarah dunia juga disembah, namun ini tidaklah menjadikannya Tuhan. Meskipun Firaun mengaku dirinya Tuhan, pengakuannya itu kosong tidak membawa erti. Sedangkan yang mengaku dengan lidah sendiri pun tidak dapat dijadikan hujah, apatah lagi sekadar disembah!

Lantas, apakah ciri Tuhan itu sekadar disembah?

Sebenarnya, terdapat banyak ciri-ciri Tuhan yang haq didalam Alquran dan Sunnah. Allah menggambarkan hak penciptaanNya, hak kepemilikanNya, hak pentadbiranNya, hak utntuk disembah dan hak nama-nama serta sifatNya yang maha mulia dalam banyak ayat Alquran. Terlalu banyak jika saya hendak senaraikan disini satu persatu namun cukuplah saya memetik satu ayat sahaja untuk kita jadikan kayu ukur untuk mengetahui apakah ciri didalam ayat tersebut dimiliki oleh Yesus. Ayat tersebut ialah ayat 13-14 Surah Al-Faathir.

“Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Dzat yang Maha mengetahui.” (QS. Faathir: 13-14).

Daripada ayat diatas, kita mendapat faedah, bahawa ciri Tuhan yang sebenar bukanlah setakat ia disembah, tetapi ia juga harus :

1 - mempunyai leluasa/wewenangan atas pemilikan dalam alam ini
2 - mampu mendengar permintaan kita (bukan pekak)
3 - dan jika mereka mendengar, haruslah ada kemampuan untuk memperkenankan permintaan kita,
4 - kemudian, perlu ada jaminan bahawa mereka tidak akan berlepas diri dari tindakan kita mempertuhankan mereka di hari kiamat kelak.

Mari kita analisis ayat diatas dengan ciri-ciri Yesus yang ada didalam Bible :

1 - Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.

Yesus berkata didalam Alkitab : “Jika aku memuliakan diriku sendiri, maka kemuliaanku itu sedikitpun tidak ada artinya. Allah-kulah yang memuliakanku.” (Yohanes, 8:54)

Jelas disini Yesus mengakui beliau tidak memiliki apa-apa hatta kemuliaannya pun tidak bererti dan merupakan anugerah Tuhan.

2 - Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu;

Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?"* Artinya: /Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Matius 27:46)

Ini adalah seruan Yesus saat dia disalib, jika dia saja menyeru Allah disaat kesulitan itu, maka apakah kita mengharapkan dia mendengar seruan kita?


3 - mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu.

Matius 18:19: Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.

Didalam ayat ini Yesus menjelaskan bahawa yang mengabulkan permintaan adalah Tuhan Allah di syurga, bukan baginda.

4 - Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu

Yesus berkata : Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. (Yohanes 17:3)

Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!. (Matius, 4:10)

Berdasarkan pengakuan Yesus didalam Alkitab ini, adakah anda tidak takut sekiranya Yesus berlepas diri dari anda ketika ditanya oleh Allah di hari kiamat kelak?




1 - Apakah Al-Kitab mengatakan Yesus disembah? - Gotquestions Bahasa Melayu
2 - Kapan Yesus pertama disembah? - SarapanPagi Bibilka Ministry
3 - Adakah Yesus pernah berkata "Sembahlah Aku"? - isayesus.blogspot
4 - Biblehub.com/greek
5 - Simon Petrus - Wikipedia Bahasa Melayu
6 - Kamus Dewan Online
7 -  Orang Melayu Dahulu Sudah Menganut Agama Tauhid & Bukan Animisme! - Ahmad Iqram Mohamad Noor (Penyelidik di Multiracial Reverted Muslim)
8 - Mengapa sembah hyang? - Suparjo.blogspot.
9 - Tauhid: Tidak Ada yang Pantas Menjadi Sekutu Allah - Muslim.or.id
10 - Sabdaweb Alkitab Terjemahan Baru